JAKARTA, Detiktoday.com – Kalangan ahli menilai prospek harga emas tetap positif dalam jangka menengah hingga jangka panjang, karena faktor dinamika geopolitik dan risiko defisit fiskal yang meningkat di negara-negara ekonomi terbesar.
Pada Januari 2026, HSBC memproyeksikan harga emas dunia dapat melanjutkan reli hingga menyentuh level US$ 5.050 per ons pada paruh pertama 2026.
Ahli strategi valuta asing dan komoditas di HSBC, Rodolphe Bohn menyoroti pergerakan harga emas dunia yang bergejolak di awal 2026, dengan penurunan dari level US$ 5.415 per troy ons pada akhir Januari menjadi US$ 4.400 pada Maret 2026. Penurunan itu seiring meningkatnya konflik di Iran.
Bohn menilai, meski konflik di Timur Tengah telah meningkatkan volatilitas harga emas dalam jangka pendek, prospek logam mulia tetap konstruktif.
“Kami mempertahankan pandangan bullish terhadap emas dalam jangka menengah hingga panjang,” kata Bohn, dikutip dari Kitco News, Selasa (21/4/2026).
“Selama fase penghindaran risiko, di mana harga minyak melonjak, dolar AS menguat sebagai aset safe-haven, imbal hasil naik, dan ekuitas turun, emas tidak bertindak sebagai ‘lindung nilai geopolitik’ yang langsung, karena investor menjual emas batangan untuk meningkatkan likuiditas sementara dolar AS menyerap sebagian besar permintaan aset safe haven,” ucapnya.
“Namun, gencatan senjata baru-baru ini menunjukkan bahwa emas dapat pulih dengan cepat seiring stabilnya pasar,” ujar Bohn.
Menurutnya, arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek bergantung pada de-eskalasi di Timur Tengah, dengan gencatan senjata yang berlanjut, pembukaan kembali Selat Hormuz secara resmi, dan stabilisasi harga minyak.
“Kondisi itu akan mengurangi tekanan keuangan, meredakan kekhawatiran inflasi, dan mendukung imbal hasil yang lebih rendah,” pungkasnya.
Beda Arah Harga Emas dan Minyak