Harga Emas dan Tembaga Meroket, tapi PNBP Minerba Hanya Tumbuh Tipis 6%

Harga Emas dan Tembaga Meroket, tapi PNBP Minerba Hanya Tumbuh Tipis 6%

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat kinerja Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batu bara (minerba) menunjukkan pertumbuhan positif pada kuartal I-2026. Namun, pertumbuhan tersebut relatif terbatas dan tidak sebanding dengan lonjakan harga sejumlah komoditas unggulan di pasar global.

Berdasarkan dokumen APBN KiTa edisi April 2026 yang dirilis Kamis (30/4/2026), realisasi PNBP minerba mencapai Rp 32,6 triliun, atau hanya tumbuh 6,19% secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini merupakan kontributor utama dari total PNBP Sumber Daya Alam (SDA) nonmigas yang mencapai Rp 35,1 triliun.

Pertumbuhan PNBP minerba yang “mungil” ini menjadi sorotan di tengah meroketnya harga komoditas dunia akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Sebagai perbandingan, pada periode Januari-Maret 2026, rata-rata harga emas dunia telah melambung 73% yoy, diikuti tembaga yang naik 40% yoy, dan nikel sebesar 9% yoy.

“PNBP SDA Nonmigas utamanya disumbang SDA Minerba khususnya sektor mineral karena peningkatan harga komoditas seperti emas, tembaga, dan nikel,” tulis laporan Kemenkeu dalam dokumen tersebut.

Secara agregat, realisasi PNBP nasional pada kuartal I-2026 menyentuh angka Rp 112,1 triliun. Meskipun sektor minerba tumbuh positif, total PNBP nasional justru terkontraksi 3,0% yoy, atau baru memenuhi 24,4% dari target APBN 2026.

Perkembangan PNBP SDA Nonmigas. (Sumber: APBN KiTa edisi April 2026)

Di sisi lain, total pendapatan negara hingga akhir Maret 2026 tercatat sebesar Rp 574,9 triliun, tumbuh 10,5% yoy. Capaian ini baru menyentuh 18,2% dari target tahunan sebesar Rp 3.153,6 triliun.

Sementara dari sisi perpajakan, sektor pertambangan mencatat kontribusi cukup besar pada kuartal I-2026. Sektor ini berkontribusi Rp 32,9 triliun atau 8,3% dari total penerimaan pajak.

Share