Sabang Harus Jadi Poros Maritim Dunia, Bukan Sekadar Lintasan

Sabang Harus Jadi Poros Maritim Dunia, Bukan Sekadar Lintasan

Share
Share

Jakarta, Detiktoday.com – Anggota Komisi IV DPR RI sekaligus pakar kelautan, Rokhmin Dahuri, menegaskan Sabang harus menjadi poros maritim dunia, bukan sekadar lintasan, saat melakukan kunjungan kerja ke Kota Sabang, Provinsi Aceh.

“Sabang berada di jalur penting Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang menghubungkan India, Timur Tengah, dan Eropa dengan pusat ekonomi Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan,” kata Rektor Universitas UMMI Bogor ini, dikutip Sabtu (2/5/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Rokhmin meninjau langsung Pelabuhan CT-3 (Cargo Terminal-3) yang dikelola oleh Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS). Ia didampingi oleh Wali Kota Sabang, Zulkifli H Adam, dalam melihat potensi strategis pelabuhan tersebut.

Pelabuhan CT-3 memiliki keunggulan teknis yang signifikan, dengan panjang dermaga sekitar 400 meter dan kedalaman kolam mencapai -10 meter LWS, sehingga mampu menampung kapal besar hingga panjang 230 meter. Kondisi perairan Sabang yang dalam dan alami juga memungkinkan operasional pelabuhan tanpa kebutuhan pengerukan rutin yang besar.

Rokhmin menilai bahwa posisi geografis Sabang sangat strategis dalam konteks perdagangan global, bahkan dinilai lebih kompetitif dibandingkan sejumlah pelabuhan besar di kawasan Asia Tenggara.

“Sabang terletak di ujung barat Selat Malaka. Posisi ini menjadikannya simpul penting dalam perdagangan global, bukan hanya bagi kawasan, tetapi juga bagi distribusi komoditas dunia,” ujarnya.

Berdasarkan data Center for Strategic and International Studies (CSIS) per 22 April 2026, Selat Malaka menyumbang sekitar 21,6 persen perdagangan maritim global, menjadikannya jalur laut paling vital di dunia. Letak Sabang yang berbatasan dengan Malaysia, Thailand, dan India, serta dikelilingi Samudera Hindia dan Laut Andaman, semakin memperkuat nilai strategisnya.

Ia menekankan pentingnya revitalisasi Pelabuhan CT-3 melalui integrasi dengan kawasan industri, sistem logistik modern, serta manajemen rantai pasok yang terpadu.

“Dengan tata kelola profesional, konektivitas multimoda, serta digitalisasi layanan pelabuhan, CT-3 bisa menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi baru bagi Sabang, Aceh, bahkan Indonesia,” ucapnya.

Selain fungsi logistik, Rokhmin juga melihat potensi besar pelabuhan ini sebagai titik sandar kapal pesiar internasional yang dapat mendorong sektor pariwisata bahari.

“Sektor pariwisata bahari Sabang bisa semakin kuat, membuka peluang bagi UMKM lokal, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat,” ujar Ketum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) ini.

Pandangan tersebut mendapat sambutan positif dari Deputi Komersial dan Investasi BPKS Sabang, Teuku Ardiansyah, yang mengapresiasi perhatian terhadap pengembangan ekonomi maritim di wilayah tersebut.

Di akhir kunjungan, Rokhmin kembali menegaskan pentingnya menjadikan Sabang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi maritim di ujung barat Indonesia.

“Penguatan Pelabuhan CT-3 sejalan dengan visi besar menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dan mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.

Share