Harga Minyak Melonjak usai Konflik AS dan Iran MemanasHarga Minyak Melonjak usai Konflik AS dan Iran Memanas

Harga Minyak Melonjak usai Konflik AS dan Iran MemanasHarga Minyak Melonjak usai Konflik AS dan Iran Memanas

Share
Share

HOUSTON, Detiktoday.comHarga minyak dunia sempat melonjak hingga 3% pada perdagangan Jumat (8/5/2026) waktu setempat, setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat saling serang di kawasan Teluk. Namun, penguatan tersebut berangsur menyusut karena pasar berharap konflik tidak kembali meluas dan jalur pelayaran di Selat Hormuz segera kembali normal.

Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent ditutup naik US$ 1,23 (1,23%) menjadi US$ 101,29 per barel, setelah sempat melonjak sekitar 3% dalam perdagangan intraday. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 61 sen (0,64%) ke level US$ 95,42 per barel.

Meski ditutup menguat, kedua kontrak minyak tersebut masih mencatat penurunan mingguan lebih dari 6%, seiring pasar terus dibayangi ketidakpastian geopolitik Timur Tengah.

Mitra Again Capital John Kilduff mengatakan pasar saat ini bergerak sangat fluktuatif karena investor masih menimbang peluang tercapainya kesepakatan damai maupun risiko pecahnya kembali konflik berskala besar.

“Kita berada di ambang terobosan negosiasi atau justru di ambang pecahnya kembali pertempuran. Situasi seperti ini sudah sering terjadi,” ujar Kilduff.

Menurut dia, pasar masih berharap tercapai kesepakatan awal yang membuka jalan negosiasi lanjutan selama 30 hari antara AS dan Iran.

Sepanjang perdagangan, harga minyak bergerak liar mengikuti perkembangan terbaru konflik Timur Tengah dan pernyataan para pejabat kedua negara.

Analis senior Price Futures Group Phil Flynn mengatakan pasar saat ini sangat sensitif terhadap setiap berita terkait konflik AS-Iran. “Pasar masih terus dimainkan oleh arus berita. Pergerakan kapal di Teluk Persia sejauh ini masih berlangsung relatif normal,” ujar Flynn.

Ketegangan kembali meningkat setelah pasukan AS dan Iran bentrok di kawasan Teluk. Uni Emirat Arab (UEA) juga dilaporkan kembali menjadi sasaran serangan ketika Washington menunggu respons Teheran terkait proposal penghentian konflik.

Konflik tersebut bermula dari serangan udara gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.

Presiden AS Donald Trump menegaskan gencatan senjata masih berlaku dan mencoba meredakan ketegangan pasar. Namun pada Jumat, Trump kembali melontarkan ultimatum agar Iran menghentikan ambisi nuklirnya.

Pasar Masih Waspada

Share