JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas batangan PT Antam Tbk (ANTM) diprediksi bergerak di kisaran Rp 2.750.000 hingga Rp 2.900.000 per gram dalam sepekan ke depan.
Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, harga emas Antam (ANTM) pada Sabtu lalu ditutup di Rp 2.839.000 per gram.
“Jika turun, support pertama di Rp 2.786.000 per gram. Support kedua di Rp 2.750.000 per gram,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (10/5/2026).
Pakar emas tersebut mengungkapkan, jika harga emas Antam naik, maka resistance pertama di Rp 2.866.000 per gram pada Senin depan. Kemudian, untuk sepekan ke depan hingga Sabtu, resistance kedua di level Rp 2.900.000 per gram.
Faktor yang mempengaruhi pergerakan harga logam mulia terutama faktor geopolitik. Faktor geopolitik terlihat masih terus memanas di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina maupun di Timur Tengah.
Sementara itu, Iran melakukan penyeberangan dengan menggunakan tanker kosong yang mengelabui Amerika, kemudian kapal-kapal tersebut disita dan tidak ada isinya, yang membuat pasukan Amerika ini murka, kemudian melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal tanker Iran.
Iran pun membalas dengan melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal perusak Amerika. Tetapi dari pihak Iran sendiri mengatakan bahwa tiga kapal perusak ini mengalami kerusakan yang cukup parah.
“Walaupun terjadi baku tembak, Presiden Trump tetap menyatakan gencatan senjata walaupun sedikit rapuh tapi masih tetap berlaku,” jelas Ibrahim.
Kemudian, di Eropa, Rusia mengancam akan melakukan penyerangan besar-besaran terhadap Rusia, terhadap Ukraina dan negara-negara anggota NATO yang membantu. Kemungkinan besar ini yang akan membuat harga emas akan kembali mengalami kenaikan.
Lalu, yang membuat emas jatuh adalah dampak ekonomi dan kelumpuhan maritim akibat dari penutupan Selat Hormuz. Ini membuat inflasi yang akan tinggi dan juga membuat ketakutan Bank Sentral Global untuk kembali mempertahankan suku bunga dalam pertemuan pada bulan ini.
Terkait masalah supply dan demand, pada kuartal I-2026, menjadi kuartal yang cukup krusial dimana pada saat harga emas mengalami penurunan, terdapat lonjakan Bank Sentral Global dalam melakukan pembelian secara besar-besaran.
“Kita melihat bahwa salah satunya adalah Bank Sentral China yang memperkuat cadangan devisa nasional di kuartal pertama melakukan pembelian sebanyak 7,15 ton. Ini mengindikasikan saat harga emas mengalami penurunan dimanfaatkan oleh Bank Sentral untuk melakukan pembelian,” ujarnya.
Ibrahim mengatakan sehingga dalam kurun waktu 5 tahun ke belakang, China sudah memiliki cadangan emas terbesar kelima di dunia.