Secara teknikal, Geraldo memaparkan, harga emas juga mulai membentuk swing high baru yang mengindikasikan potensi pelemahan lanjutan. Selain itu, pola ABC Correction pada timeframe H4 memperkuat sinyal bahwa pasar masih berada dalam fase koreksi jangka pendek.
Dengan kondisi tersebut, harga emas diperkirakan berpotensi kembali turun menuju area support terdekat di level US$ 4.671 per ons troi. “Jika tekanan bearish berlanjut, maka target penurunan berikutnya berada di area US$ 4.637 per ons troi,” papar Geraldo.
Dari sisi fundamental, Geraldo menegaskan, penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas. Ketika dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi investor global sehingga permintaan cenderung melemah.
“Selain itu, kenaikan yield obligasi pemerintah AS turut membuat investor beralih ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga,” jelasnya.
Menurut Geraldo, pasar juga masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama di tengah data inflasi dan tenaga kerja AS yang masih solid. Kondisi tersebut berpotensi menjaga penguatan dolar AS dan mempersempit ruang kenaikan emas.
“Di sisi lain, sentimen pasar global yang mulai membaik turut mengurangi minat investor terhadap aset safe haven seperti emas,” tegas Geraldo.
Meski demikian, Geraldo menyarankan pelaku pasar tetap waspadai volatilitas tinggi karena arah pergerakan emas masih sangat sensitif terhadap perkembangan data ekonomi AS, pergerakan dolar, dan kebijakan bank sentral global.