JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diperkirakan bergerak fluktuatif pada pekan depan di tengah dinamika geopolitik global, arah suku bunga Amerika Serikat (AS), hingga pelemahan rupiah. Harga emas Antam diprediksi bergerak dalam rentang Rp 2.749.000 per gram hingga mendekati Rp 2.900.000 per gram.
Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan, harga emas Antam (ANTM) berpotensi turun ke level Rp 2.749.000 per gram dari posisi penutupan Sabtu (16/5/2026) sebesar Rp 2.769.000 per gram.
“Kemungkinan besar turun Rp 20.000, di Rp 2.749.000 per gram,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).
Menurut dia, penurunan harga emas Antam masih dapat berlanjut hingga ke level Rp 2.685.000 per gram atau terkoreksi Rp 84.000 per gram dibanding posisi akhir pekan lalu.
Meski demikian, peluang penguatan harga emas masih terbuka. Jika menguat, harga emas Antam diproyeksikan bergerak di kisaran Rp 2.789.000 hingga Rp 2.880.000 per gram.
“Jadi untuk mencapai level Rp 2.900.000 kemungkinan sangat berat sekali,” kata Ibrahim.
Ibrahim menjelaskan, sentimen geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas Antam (ANTM). Salah satu perhatian pasar tertuju pada perkembangan hubungan AS, Iran, dan China terkait pembukaan Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump disebut sangat berharap Iran menyepakati pembukaan Selat Hormuz setelah pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping. Kesepakatan itu juga dikaitkan dengan upaya mengakhiri konflik antara Iran dan AS.
Namun demikian, dalam skenario tersebut, konflik Iran dan Israel diperkirakan masih akan berlangsung. Jika perang Iran-Israel berlanjut meski Selat Hormuz dibuka, harga emas diperkirakan kembali menguat.
“Tetapi kalau Amerika masih ikut campur, kemudian Iran masih memblokade Selat Hormuz, ini akan berbalik, maka harga emas dunia, logam mulia akan mengalami penurunan. Ini kita tinggal melihat situasi dan kondisi ke depan,” ujar Ibrahim.
Selain itu, perundingan antara Libanon dan Israel juga diperpanjang, meski konflik di wilayah yang dikuasai Hizbullah di Libanon Selatan masih berlangsung.
Di sisi perdagangan global, Ibrahim menilai pertemuan Xi Jinping dan Trump berpotensi menghasilkan kesepakatan yang mengarah pada solusi saling menguntungkan bagi AS dan China. China disebut akan meningkatkan pembelian sejumlah komoditas AS, mulai dari produk pertanian, minyak mentah, hingga pesawat Boeing.
“Situasi tersebut akan menenangkan pasar. Ini membuat kemungkinan besar perang dagang sedikit mereda di antara Amerika dengan China,” ungkap Ibrahim.
Dalam Jangka Panjang