JAKARTA, Detiktoday.com – Prospek harga emas dinilai masih sangat kuat meski sempat terkoreksi tajam akibat perang Iran dan gejolak pasar global. Bank swasta asal Swiss, Lombard Odier, bahkan memprediksi harga emas berpotensi kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) baru dan menembus US$ 5.400 per ons troi dalam 12 bulan ke depan.
Global FX Strategist Lombard Odier Kiran Kowshik mengatakan, pelemahan harga emas belakangan ini lebih dipengaruhi sentimen jangka pendek, bukan perubahan tren fundamental. “Momentum emas memang melambat, tetapi ini bukan pembalikan tren struktural,” ujar Kowshik dalam riset terbarunya dikutip dari Kitco.
Harga emas sebelumnya sempat melonjak lebih dari dua kali lipat hingga menyentuh rekor US$ 5.595 per ons troi pada Januari 2026. Namun, konflik Timur Tengah membuat harga emas terkoreksi lebih dari 10% dan sempat jatuh ke level US$ 4.099 per ons troi pada pertengahan Maret. Harga emas terakhir berada di sekitar US$ 4.560 per ons troi. Sedangkan rekor ATH harga emas tercatat di level US$ 5.595,41 per ons troi pada Januari 2026
Menurut Kowshik, tekanan terhadap emas muncul akibat lonjakan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi, kenaikan imbal hasil obligasi AS, serta penguatan dolar AS. Kondisi tersebut sempat menekan daya tarik emas sebagai aset safe haven.
Namun, Kowshik melihat sinyal besar harga emas masih sangat positif dalam jangka menengah hingga panjang. Kowshik menilai permintaan emas global tetap solid, terutama dari bank sentral dan investor institusi yang terus memburu aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia.
Menurut dia, sanksi finansial AS terhadap Rusia mendorong banyak negara mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan meningkatkan cadangan emas sebagai aset netral yang lebih aman. Selain itu, tingginya inflasi global, ketidakpastian fiskal, serta kekhawatiran terhadap kredibilitas kebijakan moneter turut memperkuat permintaan emas.
Permintaan Emas Kuat