JAKARTA, Detiktoday.com – Sejumlah lembaga pemeringkat menilai sektor komoditas Indonesia masih memiliki prospek positif di tengah ketidakpastian geopolitik global dan pelemahan nilai tukar rupiah. Namun, sektor hilir dan industri berbasis energi diperkirakan menghadapi tekanan struktural dalam beberapa tahun ke depan.
Kepala Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan-1 Pefindo, Martin Pandiangan, mengatakan bahwa sektor komoditas seperti crude palm oil (CPO), hulu minyak dan gas, serta emas berpotensi menjadi pihak yang paling diuntungkan dari dinamika global saat ini.
“Kami memproyeksikan sektor komoditas seperti CPO, hulu migas, dan emas akan diuntungkan dari dinamika geopolitik dan depresiasi rupiah, terutama karena keseimbangan permintaan-penawaran dan arus kas dalam denominasi dolar AS,” ujar Martin dalam acara Indonesia Credit Spotlight 2026: Navigating Geopolitical Headwinds and Domestic Resilience oleh S&P Global Ratings di Jakarta, belum lama ini.
Pelemahan rupiah justru dapat memperkuat pendapatan perusahaan yang memiliki arus kas berbasis dolar AS. Selain itu, kondisi geopolitik global yang mendorong kenaikan harga komoditas dinilai menjadi katalis positif bagi sektor-sektor tersebut.
Sebaliknya, sektor hilir logam dan petrokimia diperkirakan menghadapi tekanan akibat keterbatasan bahan baku, kenaikan biaya energi, serta fluktuasi permintaan industri global. Adapun sektor batu bara, nikel, telekomunikasi, dan barang konsumsi pokok diperkirakan mengalami dampak yang relatif netral di tengah kondisi ekonomi saat ini.
Martin juga menyoroti langkah sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) yang mulai fokus pada integrasi hilirisasi dan efisiensi operasional. Menurut dia, strategi tersebut dapat meningkatkan daya saing dan memperkuat ketahanan bisnis perusahaan.
“Namun, kami juga mengantisipasi risiko keuangan dan struktural, khususnya terkait peningkatan leverage dari belanja modal yang didanai utang dan kelayakan ekonomi proyek-proyek kompleks,” ujarnya.
Sementara itu, Associate Director Corporate Ratings S&P Global Ratings, Ker Liang Chan, menilai sektor komoditas Indonesia turut memperoleh manfaat dari kenaikan harga hidrokarbon dan logam di pasar internasional.
“Kenaikan harga ini kemungkinan akan mengimbangi potensi kenaikan biaya,” kata Liang Chan.
Meski demikian, ia menilai risiko kebijakan dan regulasi masih menjadi faktor utama yang membayangi industri komoditas nasional, termasuk sektor minyak sawit, logam, dan pertambangan. Kebijakan pengetatan kuota produksi untuk komoditas seperti nikel dan batu bara termal berpotensi menekan pelaku usaha, terutama perusahaan berskala kecil.
Selain itu, penegakan hukum lingkungan dan pemberantasan tambang ilegal dinilai dapat memengaruhi minat investasi, terutama ketika ketidakpastian global meningkat.
Di sisi lain, S&P Global Ratings menilai kondisi pendanaan domestik Indonesia masih cukup kuat untuk menopang korporasi pada 2026. Sebagian besar perusahaan dinilai mampu menghadapi depresiasi rupiah secara moderat tanpa tekanan signifikan terhadap margin keuntungan maupun pembayaran utang.
“Ini mencerminkan pergeseran menuju pendanaan domestik dalam beberapa tahun terakhir, yang mengurangi ketergantungan pada utang valuta asing dan meningkatkan ketahanan terhadap guncangan eksternal,” jelas Liang Chan.