Kurban, Filantropi, dan Cara Baru Merawat Sesama

Kurban, Filantropi, dan Cara Baru Merawat Sesama

Share
Share

Jakarta, Detiktoday.com – Ada satu pemandangan yang selalu berulang setiap Iduladha. Di sudut kampung, anak-anak berdiri membawa kantong plastik. Wajah mereka berbinar. Orang-orang berkumpul. Pisau diasah. Takbir menggema. Bau rumput, tanah, dan hewan kurban bercampur menjadi aroma yang hanya datang setahun sekali. Lalu daging dibagikan. Selesai.

Sering kali kurban berhenti di sana. Sebatas seremoni tahunan. Sebatas ritual yang datang lalu pergi. Padahal mungkin kita perlu bertanya ulang apakah kurban hanya tentang membagikan daging? Ataukah sesungguhnya ia sedang mengajari manusia cara mengelola kepedulian?

Tahun ini muncul gagasan yang menarik perhatian publik. Presiden Prabowo Subianto meminta agar daging dam jamaah haji Indonesia yang dikelola di Arab Saudi dapat disalurkan untuk warga Palestina, khususnya Gaza yang menghadapi krisis kemanusiaan berkepanjangan.

Gagasan itu sederhana, tapi maknanya besar. Ibadah tidak berhenti pada altar spiritual. Ia bergerak menjadi jalan kemanusiaan. Namun di titik inilah muncul pertanyaan yang lebih dekat dengan rumah kita sendiri.

Jika daging dam bisa melintasi batas negara menuju Gaza, mungkinkah pengelolaan kurban dan dam juga dirancang lebih strategis untuk menjawab persoalan sosial di Indonesia?

Pertanyaan itu sesungguhnya bukan hal baru. Beberapa tahun terakhir, pengelolaan daging dam berkembang semakin modern. Tidak lagi sekadar dibagikan dalam bentuk segar, tetapi diolah menjadi pangan tahan lama seperti kornet atau makanan kaleng dengan masa simpan panjang.

Di Jawa Tengah, gagasan itu pernah dipraktikkan. Baznas Jawa Tengah, misalnya, mengembangkan pengelolaan daging dam menjadi produk olahan seperti kornet dan pangan kaleng yang dapat disimpan lebih lama. Dengan cara itu, manfaat daging dam tidak berhenti di hari pembagian.

Ia dapat bergerak lebih jauh. Menjangkau masyarakat rentan, memperkuat bantuan kebencanaan, menjangkau daerah rawan pangan. Bahkan membuka kemungkinan menjadi bagian intervensi gizi bagi kelompok yang membutuhkan.

Model seperti ini membuka kemungkinan besar. Kurban dan dam tidak hanya hadir sebagai bantuan sesaat. Tetapi menjadi bagian dari strategi sosial yang berkelanjutan. Di sinilah kita perlu membicarakan satu kata yang mungkin terdengar akademis, tetapi sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia: filantropi.

Filantropi adalah praktik memberi demi kebaikan bersama. Dan Indonesia sesungguhnya adalah bangsa filantropi. Laporan World Giving Index 2024 menempatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia selama tujuh tahun berturut-turut dengan skor 74 poin.

Laporan yang disusun Charities Aid Foundation (CAF) itu juga mencatat sekitar 90 persen masyarakat Indonesia menyumbangkan uang untuk kegiatan sosial, sementara sekitar 65 persen terlibat dalam aktivitas kerelawanan. Angka-angka itu memperlihatkan satu hal. Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang baik. Yang sering kurang adalah cara agar kebaikan bekerja lebih panjang.

Sosiolog Zygmunt Bauman pernah mengingatkan ironi manusia modern. Teknologi membuat manusia semakin terhubung. Informasi bergerak semakin cepat. Tetapi kepedulian tidak selalu tumbuh seiring perkembangan itu.

Manusia modern dapat dengan mudah menyaksikan penderitaan orang lain, namun tidak selalu bergerak melakukan sesuatu. Kita melihat begitu banyak, tapi kadang semakin sedikit merasakan. Di titik inilah filantropi menemukan relevansinya.

Filantropi cukup hadir sebagai rasa iba yang datang sesaat lalu pergi. Ia membutuhkan desain, tata kelola, data, dan keberlanjutan. Filsuf Emmanuel Levinas memberi pengingat penting. Menurutnya, tanggung jawab kepada sesama lahir ketika manusia berjumpa dengan “wajah orang lain”, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan.

Di hadapan penderitaan sesama, manusia sesungguhnya sedang diuji kemanusiaannya. Filantropi pada akhirnya bukan hanya tentang memberi. Namun tentang keberanian untuk tidak berpaling.

Filsuf Peter Singer melangkah lebih jauh. Menurutnya, membantu sesama tidak cukup berhenti pada niat baik. Kepedulian perlu dirancang agar benar-benar memberi manfaat terbesar bagi mereka yang membutuhkan.

Di sinilah filantropi modern menemukan bentuknya. Bukan sekadar kemurahan hati, juga keberpihakan yang dikelola secara cerdas. Kurban menjadi contoh menarik. Selama ini kita mengenalnya sebagai ritual berbagi daging.

Padahal di dalam tradisi Islam, kurban adalah bagian dari ekosistem filantropi besar bersama zakat, infak, sedekah, wakaf, hingga dam haji. Seluruh instrumen itu memiliki tujuan yang sama: menghadirkan keadilan sosial.

Islam tidak hanya mengajarkan kemurahan hati. Islam mengajarkan bagaimana kepedulian diorganisasi. Sebab itu, mungkin sudah saatnya kita memikirkan kurban dengan cara pandang baru.

Sebagian tetap dibagikan langsung sebagaimana tradisi yang selama ini menghidupkan kegembiraan Iduladha. Tetapi sebagian lain dapat dikelola lebih strategis.

Diolah menjadi kornet, abon, protein siap konsumsi, cadangan bantuan bencana, intervensi daerah rawan pangan. Atau menjadi bagian dari upaya mengatasi stunting.

Masalah gizi Indonesia memang terus membaik. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 persen, membaik dari 21,5 persen pada tahun sebelumnya. Secara absolut, jumlah balita stunting turun dari sekitar 4,8 juta menjadi 4,4 juta anak.

Capaian ini patut diapresiasi. Tetapi pekerjaan rumah belum selesai. Jutaan anak Indonesia masih menghadapi tantangan tumbuh kembang akibat persoalan gizi. Ketimpangan ekonomi memperberat keadaan.

Kelompok keluarga ekonomi terbawah memiliki risiko stunting jauh lebih tinggi dibanding kelompok ekonomi atas. Padahal protein hewani memiliki peran penting.

Berbagai studi gizi global menunjukkan kecukupan protein hewani membantu pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta mengurangi risiko gagal tumbuh pada anak. Di titik inilah filantropi menemukan makna baru. Bukan sekadar memberi, namun membantu menyelesaikan akar persoalan.

Bayangkan jika distribusi daging kurban tidak hanya bekerja satu hari. Tetapi sepanjang tahun. Bayangkan jika filantropi tidak hanya menyentuh rasa iba. Tetapi ikut membangun masa depan.

Allah SWT berfirman:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”

(QS Al-Hajj: 37)

Ayat ini menyentuh inti persoalan. Yang sampai kepada Allah bukan daging. Bukan darah. Tetapi ketakwaan. Dan ketakwaan selalu memiliki wajah sosial.

Ia hadir ketika orang lapar mendapatkan makanan. Ia hadir ketika anak-anak memperoleh gizi yang layak. Ia hadir ketika kepedulian tidak berhenti menjadi rasa iba. Tetapi berubah menjadi sistem yang bekerja.

Al-Qur’an juga mengingatkan:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap bulir seratus biji.”

(QS Al-Baqarah: 261)

Ayat ini berbicara tentang satu hal penting. Kebaikan seharusnya bertumbuh.Berlipat. Meluas. Bukan berhenti pada satu titik.

Mungkin di situlah masa depan filantropi Islam berada. Bukan hanya memberi. Tetapi memastikan pemberian itu terus bekerja. Bukan hanya menyentuh. Tetapi mengubah.

Kita saat ini hidup di zaman paradoks. Teknologi berkembang pesat. Logistik semakin canggih. Tapi sering kali kepedulian masih bekerja dengan cara lama.

Iduladha sesungguhnya sedang mengajarkan sesuatu. Nabi Ibrahim AS tidak hanya mengajarkan kepatuhan. Beliau mengajarkan keberanian melepaskan sesuatu yang dicintai demi nilai yang lebih besar.

Hari ini mungkin yang perlu kita korbankan bukan hanya hewan. Tetapi cara berpikir lama. Bahwa ibadah cukup selesai di tempat ibadah. Bahwa kepedulian cukup berhenti pada belas kasihan. Bahwa kurban hanya soal satu hari.

Kurban bisa menjadi arsitektur kepedulian. Ia dapat bergerak dari halaman masjid menuju daerah rawan pangan. Dari tempat pemotongan menuju wilayah bencana. Dari ritual menuju masa depan. Karena dunia sesungguhnya tidak sedang kekurangan kebaikan.

Yang sering kurang adalah kemampuan mengelolanya agar manfaatnya hidup lebih lama. Dan mungkin, Iduladha datang setiap tahun untuk mengingatkan kita tentang itu.

Wallahu a’lam bishawab.

Share