JAKARTA, Detiktoday.com – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi akan melemah pada perdagangan, Jumat (29/5/2026).
Menguatnya indeks di bursa Wall Street seiring adanya harapan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika dan Iran, ditundanya pemberlakukan secara penuh peran DSI dan naiknya beberapa harga komoditas diprediksi akan menjadi sentimen positif di pasar.
Sementara itu, kembali berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah, aksi jual investor asing dan rebalancing indeks MSCI berpeluang menjadi katalis negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).
“IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6.065-6.000 dan resist 6.195-6.260,” tulis CGS International Sekuritas Indonesia dalam ulasan, Jumat (29/5/2026).
Pada perdagangan kemarin indeks di bursa Wall Street ditutup menguat ditopang oleh naiknya saham teknologi yang mengantarkan S&P 500 dan Nasdaq ke level tertingginya di sepanjang sejarah setelah adanya laporan bahwa juru runding Amerika dan Iran menyetujui untuk melakukan perpanjangan gencatan senjata.
Berdasarkan laporan dari Axios, mengutip pernyataan dari dua pejabat resmi Amerika dan pejabat regional, juru runding Amerika dan Iran setuju untuk memperpanjang gencatan senjata selama enam puluh hari dan akan melakukan perundingan lebih jauh terkait program nuklir Iran.
Meskipun demikian Presiden Donald Trump belum memberikan persetujuan resmi terhadap kesepakatan tersebut.
Pasca adanya laporan tersebut harga minyak mentah jenis WTI turun dari level tertinggi hariannya dan hanya menguat 0,3% ke level US$ 88,9 per barel sedangkan untuk Brent turun 0,6% ke level U$ 93,71 per barel.
CGS International Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi saham CPIN, PGAS, TLKM, WIIM, EMAS dan INTP untuk trading, Jumat (29/5/2026).