Jakarta, Detiktoday.com – Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS. menegaskan Idul Adha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan kurban, melainkan momentum memperkuat solidaritas umat dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Menurutnya, Idul Adha menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus mempererat hubungan antarsesama manusia.
“Idul Adha mengajarkan kita dua dimensi: hablun minallah dan hablun minannas. Salat meneguhkan hubungan kita dengan Allah, sedangkan kurban menguatkan kepedulian kita pada sesama,” kata Prof. Rokhmin dalam tausiahnya yang dikutip dari berbagai sumber, dikutip Sabtu (30/5/2026).
Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University itu mengajak umat Islam menjadikan Idul Adha sebagai momentum menyembelih egoisme, kesombongan, dan sifat rakus yang dapat merusak kehidupan sosial. Ia menegaskan bahwa Islam hadir sebagai agama rahmat yang mengedepankan cinta kasih dan solidaritas antarmanusia.
“Tidak boleh ada kemewahan yang menindas kemiskinan. Islam adalah agama rahmat, dan rahmat itu hadir bila kita menghadirkan cinta kasih di tengah masyarakat,” ucapnya.
Prof. Rokhmin juga mengingatkan pesan Rasulullah SAW tentang pentingnya menjadi pribadi yang gemar memberi dan membantu sesama. Spirit kurban, menurutnya, harus melahirkan budaya berbagi dan kepedulian sosial yang terus hidup dalam kehidupan sehari-hari.
“Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Spirit kurban harus melahirkan spirit berbagi. Bagikan daging kurban, santuni yang lemah, bantu korban bencana. Itulah wujud nyata solidaritas umat,” tegas Rektor Universitas UMMI Bogor tersebut.
Dalam tausiahnya, Prof. Rokhmin meneladankan kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai gambaran totalitas ketaatan dan keikhlasan kepada Allah SWT. Kisah tersebut, menurutnya, menjadi fondasi utama ibadah kurban yang mengajarkan ketundukan dan keyakinan penuh kepada kehendak Allah.
“Ikhlas, tunduk, dan yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Itulah esensi kurban,” ujarnya.
Selain menyoroti makna spiritual Idul Adha, Prof. Rokhmin juga menekankan pentingnya tanggung jawab negara dalam memastikan kualitas hewan kurban yang beredar di masyarakat menjelang Idul Adha 2026.
Ia meminta pemerintah melalui Bulog dan Badan Pangan Nasional memperketat pengawasan agar hewan kurban yang disalurkan benar-benar sehat dan layak.
“Bulog dan Badan Pangan Nasional harus pastikan hewan kurban yang beredar sehat dan layak. Ibadah kita jangan sampai cacat karena kelalaian,” jelasnya.
Menurut Ketua Umum Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) itu, Bulog saat ini memiliki mandat lebih luas dalam menjaga ketahanan pangan nasional, termasuk memastikan distribusi pangan strategis berjalan baik dari hulu hingga hilir.
“Bulog harus jadi tulang punggung logistik nasional, dari hulu ke hilir. Ini bagian dari menjamin ketakwaan kita tidak cacat karena kelalaian,” tegasnya.
Prof. Rokhmin juga mengingatkan bahwa Idul Adha harus dimaknai sebagai alarm moral bagi bangsa Indonesia untuk memperkuat kepedulian terhadap masyarakat miskin, korban bencana, dan kelompok rentan lainnya.
“Bangsa kita punya banyak kekuatan, tapi juga kelemahan. Kurban mengajarkan kita untuk berbagi dengan korban bencana, masyarakat miskin, dan yang membutuhkan,” paparnya.
Ia menutup tausiahnya dengan ajakan agar umat Islam tidak menjadikan Idul Adha sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum memperkuat persaudaraan dan kasih sayang sosial di tengah masyarakat.
“Jangan berhenti pada rutinitas tahunan. Jadikan Idul Adha titik balik memperkuat persaudaraan, memperluas kepedulian, dan menumbuhkan kasih sayang sosial. Islam itu rahmat, dan rahmat hanya hadir bila kita menghadirkan cinta di antara sesama,” pungkasnya.