Fokus pasar pada pekan ini akan tertuju pada sejumlah data ekonomi penting AS, mulai dari indeks aktivitas manufaktur dan jasa Institute for Supply Management (ISM) hingga laporan ketenagakerjaan Non-Farm Payrolls (NFP).
Menurut Razaqzada, data-data tersebut berpotensi menjadi katalis utama yang menentukan arah harga emas dalam beberapa hari ke depan. Jika data ekonomi menunjukkan aktivitas bisnis dan pasar tenaga kerja masih kuat, dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah berpotensi menguat sehingga menekan harga emas.
Sebaliknya, jika data ekonomi melemah, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dapat kembali meningkat dan menjadi sentimen positif bagi emas.
“Laporan tenaga kerja AS kemungkinan akan menjadi peristiwa paling penting bagi pasar pekan ini karena dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan The Fed,” kata dia.
Dari sisi teknikal, Razaqzada menilai area US$ 4.400 per ons troi menjadi level support yang sangat penting bagi emas. Level tersebut berdekatan dengan rata-rata pergerakan 200 hari (200-day moving average) yang selama ini menjadi fondasi tren naik jangka panjang.
Menurut dia, pantulan harga yang terjadi dari area tersebut membuka peluang terbentuknya reli baru. Namun, jika level tersebut ditembus secara meyakinkan, tekanan jual dapat meningkat dan membawa harga menuju area US$ 4.200 hingga US$ 4.000 per ons troi.
Di sisi lain, level US$ 4.580 per ons troi menjadi hambatan terdekat yang harus ditembus untuk memperkuat peluang kenaikan lebih lanjut. Jika berhasil melewati area tersebut, target berikutnya berada di kisaran US$ 4.650 hingga US$ 4.700 per ons troi.
Razaqzada menilai, pasar emas saat ini berada di antara dua kekuatan besar, yakni membaiknya sentimen geopolitik akibat harapan perpanjangan gencatan senjata AS-Iran dan kekhawatiran inflasi yang masih tinggi.
“Selama salah satu faktor tersebut belum benar-benar mendominasi pasar, volatilitas harga emas kemungkinan akan tetap tinggi,” pungkasnya.