Analis UBS Dominic Schnider dan Wayne Gordon menjelaskan, investor saat ini kembali mempertimbangkan biaya peluang (opportunity cost) karena suku bunga riil masih tinggi. “Karakteristik emas yang tidak memberikan imbal hasil kembali menjadi pertimbangan penting ketika suku bunga riil bertahan tinggi,” tulis mereka.
Namun, UBS menegaskan tren bullish jangka panjang emas belum berakhir. Bank tersebut memperkirakan kebijakan moneter yang lebih netral pada 2027 berpotensi melemahkan dolar AS dan kembali meningkatkan minat investor terhadap emas.
Selain emas, UBS juga tetap optimistis terhadap prospek minyak dan logam dasar seperti tembaga serta aluminium.
Menurut Staunovo, persediaan produk minyak di berbagai negara masih relatif rendah sehingga berpotensi mendorong harga lebih tinggi sebelum stok kembali normal. “Persediaan produk minyak yang rendah dapat memerlukan harga yang lebih tinggi untuk menyeimbangkan permintaan sebelum stok terisi kembali,” ujarnya.
UBS juga memperkirakan pasar tembaga dan aluminium akan menghadapi defisit pasokan dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi tersebut diyakini menjadi penopang harga kedua komoditas tersebut.
Di sisi permintaan, tren elektrifikasi global dinilai akan terus meningkatkan kebutuhan terhadap logam dasar, terutama untuk kendaraan listrik, jaringan listrik, dan infrastruktur energi baru. UBS menilai komoditas masih layak menjadi bagian dari portofolio investasi pada 2026 karena memiliki korelasi yang relatif rendah terhadap saham maupun obligasi.
Bagi investor yang selama ini berfokus pada emas, UBS menyarankan diversifikasi ke komoditas lain seperti tembaga, aluminium, dan sektor pertanian guna memperluas sumber potensi imbal hasil. “Komoditas dapat mengalami volatilitas, tetapi juga berperan penting dalam portofolio karena secara historis memiliki korelasi rendah dengan saham dan obligasi,” kata Staunovo.
Menurut UBS, meski premi risiko geopolitik dari konflik Timur Tengah pada akhirnya mereda, kombinasi faktor fundamental, risiko inflasi, dan ketidakseimbangan pasokan-permintaan masih berpotensi menjaga tren kenaikan harga berbagai komoditas dalam beberapa tahun mendatang.