Jakarta, Detiktoday.com – DPR RI menegaskan komitmennya untuk terus mengawal pemenuhan hak dan pesangon mantan karyawan PT Indofarma Global Medika. Hingga saat ini, para pekerja belum menerima hak-hak mereka setelah perusahaan farmasi pelat merah tersebut dinyatakan pailit.
Anggota DPR RI, Harris Turino, mengungkapkan bahwa nilai kewajiban yang harus diselesaikan kepada para pekerja sebenarnya tidak terlalu besar untuk ukuran perusahaan skala nasional, yaitu sekitar Rp65 miliar. Namun, proses pembayarannya terkendala oleh kondisi keuangan perusahaan yang telah bangkrut.
“Untuk Indofarma, angkanya sebenarnya tidak besar, hanya sekitar Rp65 miliar. Persoalannya, saat ini Indofarma sendiri sudah pailit,” ujar Harris usai Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Federasi Serikat Pekerja BUMN Indonesia Raya di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Harris menambahkan, pihaknya telah mencoba menghubungi Bio Farma selaku induk Holding BUMN Farmasi Indonesia. Kendati demikian, alasan yang diterima selalu sama, yakni belum tersedianya dana untuk melunasi kewajiban tersebut.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
Meski menghadapi jalan buntu, legislator dari Fraksi PDI-Perjuangan ini memastikan bahwa parlemen tidak akan berhenti memperjuangkan nasib para pekerja. Berbagai langkah taktis akan ditempuh agar hak para mantan karyawan yang telah mengabdi tetap terpenuhi.
“Jangan sampai hak para karyawan, khususnya yang sudah pensiun atau terdampak kondisi perusahaan, hilang begitu saja. Ini akan terus kami perjuangkan,” tegasnya.
Untuk mencari jalan keluar, DPR akan segera berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait. Selain bersinergi dengan Komisi VI DPR RI yang membidangi urusan BUMN, komunikasi juga akan dijalin dengan Danantara Asset
“Kami akan berkomunikasi dengan rekan-rekan di Komisi VI, kemudian dengan Danantara Asset Management, termasuk CEO-nya, serta tetap berdiskusi dengan Bio Farma selaku holding farmasi,” jelas Harris.
Di sisi lain, Harris menilai Indofarma sesungguhnya memiliki potensi besar untuk bangkit dari keterpurukan. Menurutnya, kebangkrutan yang dialami perusahaan murni disebabkan oleh kesalahan tata kelola dan manajemen masa lalu, bukan karena lemahnya kapasitas produksi atau prospek bisnis.
“Potensi Indofarma sebenarnya luar biasa. Sayangnya, akibat kesalahan manajemen lama, perusahaan yang sangat baik ini justru mengalami kebangkrutan. Padahal, fasilitas produksinya sangat besar dan kualitas produknya sangat bagus,” ungkapnya.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Sebagai solusi jangka panjang, Harris mengusulkan agar fasilitas produksi Indofarma dioptimalkan melalui kerja sama dengan perusahaan farmasi swasta nasional. Langkah maklon atau kolaborasi produksi ini dinilai bisa menjadi stimulus untuk menghidupkan kembali roda bisnis perusahaan.
“Perusahaan farmasi swasta domestik bisa diajak bekerja sama untuk memproduksi obat di fasilitas Indofarma. Ini bisa menjadi jalan untuk mengembalikan kejayaan perusahaan,” tuturnya.
Ia mengenang, pada masa awal berdirinya pabrik Indofarma, banyak pelaku industri swasta yang memandang BUMN ini sebagai kompetitor berat. Namun, lemahnya tata kelola internal membuat potensi raksasa tersebut runtuh.
“Dulu, banyak perusahaan swasta yang khawatir tidak mampu bersaing dengan BUMN farmasi ini. Namun akhirnya, persoalan manajemen membuat perusahaan kolaps. Karena itu, pembenahan tata kelola menjadi kunci utama untuk membangkitkan kembali Indofarma,” pungkasnya.