Harga Minyak Melonjak, Iran dan Israel Hentikan SeranganHarga Minyak Melonjak, Iran dan Israel Hentikan Serangan

Harga Minyak Melonjak, Iran dan Israel Hentikan SeranganHarga Minyak Melonjak, Iran dan Israel Hentikan Serangan

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.comHarga minyak dunia ditutup melonjak pada perdagangan Senin (8/6/2026), meskipun memangkas sebagian kenaikan tajam yang sempat mencapai lebih dari 5% di awal sesi.

Dikutip dari Reuters, penguatan terjadi setelah Iran dan Israel menyatakan telah menghentikan serangan satu sama lain menyusul seruan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengakhiri konflik.

Harga minyak mentah Brent ditutup melonjak US$ 1,16 (1,3%) menjadi US$ 94,25 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 76 sen (0,8%) ke level US$ 91,30 per barel.

Meski demikian, ketegangan di Timur Tengah belum sepenuhnya mereda. Teheran memperingatkan akan kembali melancarkan serangan apabila Israel terus menyerang kelompok Hizbullah di Lebanon.

Sejak konflik terbaru pecah lebih dari 100 hari lalu, harga Brent telah melonjak sekitar 31%, sedangkan WTI menguat sekitar 37%. Bahkan pada April lalu, Brent sempat menembus level US$ 126 per barel.

Sebelumnya, harga minyak sempat melesat lebih dari 5% setelah Israel kembali melancarkan serangan ke Iran dan meningkatkan operasi militer di Lebanon, sehingga memudarkan harapan pasar terhadap berakhirnya konflik dalam waktu dekat.

Israel dilaporkan menyerang fasilitas petrokimia di barat daya Iran yang dituding digunakan untuk memproduksi rudal balistik. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang fasilitas serupa di kota Haifa, Israel.

Serangan tersebut terjadi setelah Israel menggempur sejumlah basis Hizbullah yang didukung Iran di Beirut pada akhir pekan lalu. Teheran berulang kali menegaskan bahwa setiap kesepakatan dengan Washington harus mencakup penghentian operasi militer Israel di Lebanon.

Presiden Donald Trump pada Senin kembali mendesak Iran dan Israel agar segera menghentikan aksi saling serang. Ketidakpastian terkait konflik tersebut membuat investor tetap khawatir terhadap potensi gangguan pasokan energi global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, pasar masih mencermati kemungkinan pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Sebelum eskalasi konflik pada akhir Februari lalu, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari melewati Selat Hormuz yang berada di lepas pantai Iran.

Selat Hormuz Dibuka

Share