Detiktoday.com, KAPUAS HULU – Pukul 06.30 WIB. Suara klakson bersahutan. Motor, mobil, truk berebut jalan. Di tengah kepulan asap dan riuh mesin, puluhan anak SD-SMP hingga SMA berdiri di tepi jalan. Mereka mau nyebrang. Tapi arus kendaraan deras seperti sungai deras. Satu detik lengah, bisa jadi tragedi.
Di titik itulah, seragam loreng hijau muncul. Bukan untuk perang. Bukan untuk patroli senjata. Tapi untuk jadi “tembok hidup” pelindung anak-anak bangsa yang berangkat menimba ilmu.
Batalyon Teritorial Pembangunan 927/Uncak Kapuas turun ke jalan. Mereka berdiri di persimpangan rawan kecelakaan. Mengangkat tangan, menghentikan kendaraan, menggandeng tangan kecil anak sekolah. Aksi sederhana. Tapi di sanalah drama kemanusiaan terjadi setiap hari.
“Kami Tidak Bisa Bantu Materi, Tapi Kami Bantu dengan Bakti dan pengabdian” Komandan Batalyon TP 927/Uncak Kapuas, Letkol Inf Jamrizal menatap lurus ke arah persimpangan yang setiap pagi jadi arena pertaruhan nyawa itu. Suaranya tegas, tapi ada getar kepedulian.
“Ini merupakan wujud nyata kita untuk rakyat karena TNI dari rakyat untuk rakyat. Kita tidak bisa membantu secara materiel tapi kita berusaha membantu kesulitan rakyat yang ada di sekeliling kita dengan bakti dan pengabdian kita kepada masyarakat, karena di persimpangan ini kalau pagi lalu lintas padat, anak-anak sekolah rame,” ungkap Letkol Jamrizal saat ditemui Detiktoday.com. Rabu (10/6/2026)
Kalimat itu bukan sekadar pernyataan. Itu sumpah. Di saat negara belum bisa menambah rambu, TNI hadir dulu. Dengan dada, dengan tangan, dengan keberanian berdiri di tengah arus kendaraan.
Drama setiap pagi detik-detik penyeberangan anak bayangkan bel sekolah berbunyi 07.00.
Anak-anak berbondong-bondong dari Kedamin Hilir, Sungai Uluk, hingga Putussibau Utara dan Putussibau Selatan. Jalan Lintas Selatan jadi lautan kendaraan. Truk ekspedisi, mobil dinas, motor saling kejar mengejar waktu.
Di sinilah prajurit Batalyon TP 927/UK berdiri. Peluit dibunyikan. Tangan terangkat. Kendaraan mendadak berhenti. Seorang prajurit menoleh ke kiri-kanan, memastikan aman. Lalu menggandeng tangan seorang anak SD yang gemetar.
“Pelan-pelan nak, lihat kanan-kiri dulu,” bisik prajurit itu.
Detik itu, persimpangan maut berubah jadi koridor aman. Orang tua yang dari kejauhan melihat, dadanya lega. Ada yang sampai meneteskan air mata.
“Terima kasih, Pak TNI,” ucap seorang ibu sambil menggendong balitanya.
Filosofi Loreng Lahir dari Rakyat, Kembali untuk Rakyat
Letkol inf Jamrizal menolak menyebut ini “pencitraan”. Bagi Dia, ini naluri. Pengabdian yang tak terhingga.
“TNI dari rakyat untuk rakyat.” Kalimat itu diulang-ulang. Karena Ia percaya, kekuatan TNI bukan di peluru yg tajam, tapi ada di hati rakyat.
“Kami mungkin tidak bisa bangun jalan, tidak bisa kasih bantuan uang. Tapi kami bisa kasih waktu. Kami bisa kasih tenaga. Kami bisa kasih rasa aman. Dan itu, bagi kami, sudah cukup jadi ladang bakti dan pengabdian kami,” tegas Danyon.
Setiap pagi, sebelum apel, anak buahnya sudah lebih dulu ke dua persimpangan Simpang Penjara dan Simpang Masjid Darussalam.
Tanpa diminta. Tanpa disuruh. Karena mereka tahu, di sanalah tugas kemanusiaan dimulai sebelum tugas negara.
Danyon ingin persimpangan ini cepat dapat solusi permanen zebra cross jelas, Lampu rambu lalu lintas, atau Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL)
Tapi sampai itu ada, Batalyon TP 927 berjanji “Kami akan tetap di sini. Sepanjang anak-anak masih harus nyebrang, selama itu pula loreng ini akan jadi perisai mereka.” tuturnya.
Warga Putussibau kini punya cerita baru tiap pagi. Bukan cerita kecelakaan. Bukan cerita kemacetan. Tapi cerita tentang prajurit yang rela berdiri di bawah terik, demi senyum anak-anak bisa sampai ke sekolah dengan selamat.
Karena di persimpangan itu, TNI membuktikan: pengabdian tidak butuh panggung besar. Cukup hadir di tempat rakyat yang paling membutuhkan. (*)