NEW YORK, Detiktoday.com – Harga emas dunia anjlok 4% lebih pada perdagangan Rabu (10/6/2026) waktu setempat, menyentuh level terendah sejak November 2025. Pelemahan itu seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi memicu inflasi dan kenaikan suku bunga.
Harga emas spot ditutup ambles 4,42% menjadi US$ 4.071,46 per ons troi, ini merupakan level terendah dalam tujuh bulan terakhir. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Agustus ditutup jatuh 4,49% ke level US$ 4.094,1 per ons troi.
Dikutip dari Reuters, tekanan terhadap emas muncul setelah ketegangan antara AS dan Iran kembali memanas. Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Iran akan ‘membayar harga’ karena dianggap terlalu lama dalam proses negosiasi kesepakatan damai. Trump bahkan menegaskan AS akan menyerang Iran dengan sangat keras jika tidak tercapai kesepakatan.
Pernyataan tersebut muncul setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain sebagai balasan atas serangan AS terhadap target-target Iran di sekitar Selat Hormuz.
“Pasar sangat membutuhkan kabar baik setelah data tenaga kerja AS yang kuat pada pekan lalu dan ancaman terbaru Trump terhadap Iran,” ujar pedagang logam independen Tai Wong.
Sejak konflik pecah pada akhir Februari, harga emas berada dalam tekanan akibat lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi global. Kondisi tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral, khususnya The Fed, akan mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan kembali menaikkan suku bunga.
Padahal, emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 67% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.
Inflasi AS Naik