Dampak Besar di Tengah Krisis Air
Serangan terhadap reservoir air dinilai sangat signifikan karena fasilitas tersebut memasok air minum bagi lebih dari 20.000 warga Kota Kouhestak dan 10 desa di sekitarnya.
Menurut laporan WANA, kerugian awal akibat kerusakan dua reservoir tersebut diperkirakan mencapai antara 780.000 hingga 830.000 dolar AS.
Kondisi ini semakin memperburuk krisis air yang telah lama melanda Iran. Sebelum konflik pecah, negara itu sudah menghadapi kekeringan berkepanjangan selama beberapa tahun terakhir, ditambah penurunan curah hujan yang signifikan.
Berbagai waduk, sungai, dan cadangan air tanah di Iran terus mengalami penyusutan akibat kombinasi perubahan iklim, pengelolaan sumber daya air yang buruk, serta praktik pertanian yang tidak berkelanjutan.
Data Aqueduct dari World Resources Institute menunjukkan tingkat tekanan air di Iran masuk kategori “sangat tinggi”, yang berarti negara tersebut menggunakan lebih dari 80% sumber daya air terbarukan yang tersedia setiap tahunnya.
Tahun lalu menjadi tahun kelima berturut-turut Iran mengalami kekeringan. Pada November 2025, Bendungan Amir Kabir di Teheran hanya terisi sekitar 8% dari kapasitasnya. Secara nasional, sedikitnya 19 bendungan utama dilaporkan mengalami kekeringan.
Iran Sebut Serangan sebagai Kejahatan Perang
Juru bicara industri air Iran, Isa Bozorgzadeh, menilai serangan terhadap reservoir air merupakan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Dalam hukum humaniter internasional, infrastruktur air seperti instalasi air minum, fasilitas pengolahan air, dan jaringan pipa termasuk objek sipil yang tidak boleh dijadikan sasaran militer.
Prinsip tersebut juga ditegaskan dalam Berlin Rules on Water Resources yang diadopsi International Law Association (ILA) pada 2004. Aturan tersebut melarang penghancuran fasilitas air apabila tindakan itu berpotensi menimbulkan penderitaan yang tidak proporsional bagi warga sipil.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada penilaian resmi dari lembaga internasional terkait apakah serangan terbaru AS terhadap fasilitas air di Iran memenuhi unsur pelanggaran hukum perang.
Konflik antara AS dan Iran kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir setelah perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran memasuki fase baru.
Meski gencatan senjata sementara berhasil dicapai pada April 2026 melalui mediasi Pakistan, berbagai insiden militer masih terus terjadi di kawasan Teluk dan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu pusat perdagangan energi dunia.
Di sisi lain, Iran tengah menghadapi krisis air terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Kombinasi perubahan iklim, berkurangnya curah hujan, pertumbuhan populasi, serta pengelolaan sumber daya air yang dinilai kurang efektif telah menyebabkan sejumlah waduk dan bendungan utama mengalami penyusutan drastis.
Kondisi tersebut membuat infrastruktur air menjadi aset vital bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat, sehingga setiap kerusakan terhadap fasilitas tersebut berpotensi menimbulkan dampak kemanusiaan yang luas.
Karena itu, laporan mengenai serangan terhadap reservoir air tidak hanya menjadi isu militer, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terkait perlindungan warga sipil dan kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional di tengah konflik yang masih berlangsung.