Harga Bitcoin Naik 3%, Ini Pendorong Utamanya

Bitcoin (BTC) Melonjak Pasca AS Batal Serang Iran

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Harga Bitcoin (BTC) mencatatkan kenaikan sebesar 3% setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan pembatalan rencana serangan militer terhadap Iran. Keputusan tersebut membawa angin segar bagi pasar keuangan, dengan optimisme kesepakatan damai antara kedua negara akan segera ditandatangani akhir pekan ini.

Kenaikan Bitcoin dari kisaran US$ 61.100 ke atas level US$ 63.400 pada Jumat (12/6/2026), selaras dengan reli di pasar modal Amerika Serikat. Indeks S&P 500 melonjak 1,75%, Nasdaq melesat 2,5%, dan Dow Jones mencatatkan penguatan lebih dari 900 poin, lapor BeInCrypto.

Sebelumnya, pasar Bitcoin sempat berada dalam tekanan hebat. Data menunjukkan ETF Bitcoin spot mengalami arus keluar (outflow) bersih sebesar US$ 4,4 miliar selama 13 sesi berturut-turut, yang menjadi penurunan beruntun terburuk sejak produk tersebut diluncurkan pada 2024.

Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran sebelumnya memaksa investor beralih ke aset yang lebih aman (safe haven), seperti emas dan obligasi. Namun, langkah Trump yang membatalkan serangan serta pernyataan soal pemerintah Iran telah menyetujui sebagian besar draf kesepakatan damai berhasil meredam kekhawatiran tersebut.

Hal ini juga terkonfirmasi di pasar komoditas, di mana harga minyak mentah Brent turun sekitar 3% menjadi mendekati US$ 90 per barel karena risiko pasokan yang mulai mereda.

Menariknya, pergerakan Bitcoin selama konflik ini menegaskan aset kripto tersebut masih berperilaku sebagai aset berisiko (risk-on), bukan sebagai penyimpan nilai yang aman layaknya emas. Saat ketegangan memuncak, harga Bitcoin jatuh bersamaan dengan saham. Sebaliknya, saat sinyal damai muncul, Bitcoin justru melonjak seiring dengan penguatan pasar saham.

Kondisi ini memberikan sinyal positif bagi investor institusi. Jika Bitcoin melemah akibat kenaikan risiko, maka logika yang sama menunjukkan arus modal berpotensi kembali masuk seiring dengan meredanya ketegangan global. Selain Bitcoin, beberapa mata uang kripto alternatif (altcoins) juga mencatatkan performa gemilang dengan Ethereum (ETH) naik 4%, Solana (SOL) 6,8%, dan Cardano (ADA) 6,6%.

Keputusan The Fed

Meski ketegangan geopolitik mereda, satu tantangan besar masih membayangi: kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Pasar kini menanti rapat The Fed yang dijadwalkan pada 16–17 Juni 2026.

Saat ini, probabilitas The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan berada di level 98%. Meski mempertahankan suku bunga tidak serta-merta negatif bagi Bitcoin, ketidakpastian mengenai panduan kebijakan ke depan telah membuat investor institusi bersikap hati-hati dalam dua pekan terakhir.

“Jika The Fed memberikan sinyal jelas mengenai arah penurunan suku bunga, maka hambatan terakhir akan hilang. Namun, jika pernyataan mereka bernada hawkish atau ambigu, euforia dari kesepakatan Iran bisa memudar dengan cepat,” ujar pengamat pasar. Keputusan pada 17 Juni mendatang diprediksi akan menjadi penentu apakah arus modal institusi benar-benar akan kembali masuk ke pasar kripto.

Sejak awal 2024, pasar kripto telah bertransformasi menjadi aset yang semakin terintegrasi dengan pasar keuangan global. Masuknya dana institusi melalui produk ETF Bitcoin spot membuat pergerakan harga kripto kini lebih sensitif terhadap kebijakan moneter makro dan peristiwa geopolitik dunia.

Fenomena “arus keluar” yang terjadi selama 13 sesi terakhir mencerminkan profil risiko investor institusi yang cenderung menghindari volatilitas saat terjadi ancaman konflik terbuka. Kini, pasar berada pada titik krusial di mana stabilitas politik internasional telah pulih, sehingga keputusan kebijakan moneter dari bank sentral AS menjadi faktor penentu utama bagi arah tren harga aset kripto dalam jangka pendek dan menengah.

Share