JAKARTA, Detiktoday.com – Nilai tukar rupiah (IDR) diprediksi rentan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Senin depan, 15 Juni 2026.
Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat tajam 128 poin terhadap dolar AS ke level Rp 17.860 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.988.
“Sedangkan untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.860 – Rp 17.910. Dalam sepekan rupiah diprediksi bergerak di rentang Rp 17.780-Rp 18.040,” ungkap Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis yang diperoleh pada Jumat (12/6/2026).
Ibrahim memaparkan, rupiah rentan melemah karena sentimen geopolitik yang masih kuat tentang konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.
Saat ini, pasar memperhatikan keputusan Amerika Serikat membatalkan serangan yang direncanakan pada hari Kamis. Presiden Donald Trump mengatakan bahwa diskusi dengan Iran telah mengalami kemajuan dan kesepakatan damai yang akan membuka kembali Selat Hormuz.
Rupiah juga rentan kembali melemah imbas sentimen tentang rilis data ekonomi AS yang memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi tetap tinggi.
“Data tersebut mendorong para pedagang untuk meningkatkan taruhan bahwa Federal Reserve dapat melanjutkan pengetatan kebijakan akhir tahun ini, dengan pasar memperkirakan sekitar 60% kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan Desember. Proyeksi sebesar 5,0% untuk tahun ini mencerminkan kinerja perekonomian pada kuartal pertama yang lebih kuat dari perkiraan,” papar Ibrahim.
Dari sisi internal, rupiah diprediksi melemah meski Bank Dunia (World Bank) mengeluarkan sinyal optimis pada perekonomian Indonesia, tercermin dari revisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi 5,0% pada 2026. Proyeksi terbaru ini lebih tinggi dibandingkan dengan estimasi lembaga tersebut pada April lalu yang mematok laju produk domestik bruto di level 4,7%.