JAKARTA, investor.id – Pasar emas terbesar di dunia mendingin pada Mei 2026, karena penurunan harga, pasar ekuitas yang kuat, dan permintaan perhiasan yang lesu membebani aktivitas investasi.
Dikutip dari Mining, Minggu (14/6/2026), World Gold Council (WGC) mengungkapkan bahwa harga Patokan Emas Shanghai PM turun 2,7% pada Mei 2026, sementara Harga Emas LBMA PM turun 1,4% karena penguatan renminbi memperkuat penurunan harga emas lokal.
Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kekhawatiran atas inflasi mendorong imbal hasil obligasi dan dolar AS lebih tinggi, yang berkontribusi pada pelemahan emas selama bulan tersebut.
WGC dalam laporan terbarunya juga mencatat, exchange-traded funds (ETF) emas di China pada bulan Mei 2026 mencatat arus keluar bulanan pertama mereka sejak Agustus 2025, sementara permintaan emas fisik merosot ke level terlemahnya pada bulan Mei dalam lebih dari satu dekade.
Arus keluar dari ETF emas di China berlanjut selama minggu pertama bulan Juni 2026.
Sementara itu, aktivitas perdagangan emas berjangka di China tetap relatif stabil. Volume rata-rata harian di Bursa Berjangka Shanghai mencapai 301 ton pada bulan Mei, sedikit menurun dari 307 ton per hari pada April 2026. Perdagangan dibatasi oleh pola harga emas yang terkonsolidasi dan minat yang kuat pada ekuitas lokal, kata WGC.
Permintaan emas fisik di China juga melemah secara signifikan. Penarikan emas dari Bursa Emas Shanghai hanya mencapai 64 ton pada bulan Mei, turun 38% dari bulan sebelumnya.
Di sisi lain, bank sentral China terus meningkatkan pembelian emas batangan.
People’s Bank of China (PBOC) menambah cadangan emasnya sebesar 10 ton pada Mei 2026, menandai akumulasi logam mulia bulan ke-19 berturut-turut sejak Desember 2024. Kepemilikan emas resmi bank sentral China naik menjadi 2.332 ton, mewakili 8,9% dari total cadangan devisa negara.
Sejauh tahun ini, bank sentral China telah mengakumulasi 25 ton emas. Selama 19 bulan terakhir, kepemilikan resmi telah meningkat sebesar 67 ton.