JAKARTA, Detiktoday.com – Investor asing terus melakukan transaksi jual bersih (net sell) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (25/6/2026). Saham BMRI dan BBRI dikepung aksi jual asing.
Net sell asing di seluruh pasar hari ini sebesar Rp 298,9 miliar. Alhasil, total net sell asing sepanjang tahun berjalan ini terus bertambah menjadi Rp 71,1 triliun – berdasarkan data BEI.
Net sell asing terbesar di pasar reguler melanda saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencapai Rp 224,1 miliar.
Selain saham BMRI, asing juga banyak menjual saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Net sell asing pada saham BBRI sebesar Rp 93,2 miliar.
Sebaliknya, transaksi beli bersih (net buy) terbanyak oleh investor asing terjadi pada saham PT Olympus Strategic Indonesia Tbk (NATO). Namun, nilainya relatif tidak signifikan. Net buy asing pada saham NATO senilai Rp 84,7 miliar.
Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini ditutup melonjak 115,1 poin (1,9%) ke level 5.999. Sebanyak 562 saham naik, 148 saham turun, dan 249 saham stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp 13,6 triliun.
Seluruh sektor saham menguat pada penutupan pasar hari ini, tertinggi di sektor infrastruktur sebesar 3,8%.
Penguatan juga terjadi di sektor kesehatan 3%, sektor barang konsumen non-primer 2,5%, sektor transportasi 2,3%, sektor perindustrian 2,2%, sektor barang baku 2,18%, dan sektor barang konsumen primer 2,13%.
Kemudian, penguatan dialami sektor properti 1,8%, sektor keuangan 1,5%, sektor energi 1,4%, dan sektor teknologi 1,1%.
Menurut Pilarmas Investindo Sekuritas, pelaku pasar merespons positif perkembangan negosiasi damai antara AS dan Iran yang meningkatkan harapan terhadap stabilitas pasokan energi global.
Di sisi lain, investor mencermati rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dijadwalkan dalam waktu dekat. Data tersebut merupakan indikator inflasi favorit The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Konsensus pasar memperkirakan indeks PCE Mei 2026 naik menjadi 0,5% secara bulanan dan 4,1% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang masing-masing sebesar 0,4% dan 3,8%.
Dari dalam negeri, penguatan IHSG hari ini terjadi meski pasar masih mencerna hasil tinjauan MSCI yang mempertahankan Indonesia dalam indeks pasar berkembang (emerging market), namun tetap menyoroti isu transparansi dan aksesibilitas pasar.
Sentimen positif datang dari kebijakan pemerintah yang menggelontorkan stimulus ekonomi senilai Rp 26,34 triliun pada semester II-2026. Paket stimulus tersebut dirancang untuk menjaga daya beli masyarakat, menopang pertumbuhan ekonomi, dan meredam dampak perlambatan ekonomi global.