Menurut Kar Yong Ang, faktor fundamental yang paling praktis untuk diamati trader adalah kebijakan moneter, terutama pergerakan suku bunga.
Ia menjelaskan, perbedaan suku bunga antarnegara sangat memengaruhi arus modal global. Secara umum, negara dengan suku bunga lebih tinggi cenderung menarik lebih banyak investasi asing sehingga menopang nilai mata uangnya. Sebaliknya, penurunan suku bunga berpotensi memicu keluarnya modal.
Sebagai contoh, trader yang memperdagangkan pasangan mata uang AUD/USD perlu memperhatikan selisih imbal hasil obligasi pemerintah Australia dan Amerika Serikat, baik tenor dua tahun maupun 10 tahun.
“Jika suku bunga Australia turun lebih cepat sementara suku bunga AS meningkat, AUD/USD cenderung melemah. Sebaliknya, ketika selisih imbal hasil melebar, nilai tukar AUD/USD biasanya ikut menguat,” jelasnya.
Kar Yong Ang menambahkan, trader juga dapat memanfaatkan perbedaan antara pergerakan harga dan spread imbal hasil (yield spread) untuk mengidentifikasi potensi pembalikan arah pasar atau divergence.
Selain kebijakan moneter, nilai tukar juga dipengaruhi berbagai faktor lain, seperti pertumbuhan ekonomi global, harga komoditas, sentimen risiko, kondisi geopolitik, arus modal, serta neraca perdagangan. Oleh karena itu, trader disarankan tidak hanya mengandalkan analisis teknikal, tetapi juga memahami kondisi fundamental agar memiliki perspektif yang lebih komprehensif dalam mengambil keputusan investasi.