JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas dunia mengawali pekan ini dengan sentimen yang lebih positif setelah menguat menyusul rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan. Meski demikian, pakar menilai reli tersebut belum cukup kuat untuk mengubah tren utama emas yang masih dibayangi tekanan.
Harga emas hari ini terlihat turun tipis 0,04% ke level US$ 4.174,23 per ons troi saat berita ini di tulis.
Market Analyst Forex.com Fawad Razaqzada mengatakan, penguatan harga emas dipicu oleh pelemahan dolar AS setelah data nonfarm payrolls (NFP) mengecewakan pasar. Namun, ia mengingatkan bahwa logam mulia tersebut baru saja melewati salah satu kuartal terburuk dalam beberapa tahun terakhir.
“Harga emas memang memulai bulan dan kuartal baru dengan penguatan. Namun, logam mulia ini sebelumnya sempat merosot hampir 30% dari puncaknya pada Januari. Penurunan yang terjadi selama kuartal II mencerminkan perubahan besar sentimen pasar terhadap prospek suku bunga dan ekonomi AS,” ujar Razaqzada dikutip dari Forex.com.
Menurut dia, tantangan terbesar emas saat ini berasal dari perubahan pendekatan kebijakan The Fed. Di bawah kepemimpinan Kevin Warsh, The Fed tidak lagi memberikan panduan kebijakan (forward guidance), sementara pelaku pasar semakin yakin suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Apalagi jika inflasi kembali meningkat dan memaksa The Fed menaikkan suku bunga lagi pada tahun ini, tekanan terhadap harga emas diperkirakan akan semakin besar.
Selain itu, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) juga menjadi faktor yang membatasi ruang kenaikan harga emas.
“Penurunan dolar AS memang memberikan ruang bagi emas untuk pulih. Namun, penguatan ini masih lebih berpotensi menjadi reli jangka pendek dibandingkan awal dari pembalikan tren yang lebih besar,” kata Razaqzada.
Pembelian Bank Sentral Dunia