JAKARTA, Detiktoday.com – Kepala Riset dan Strategi Logam di MKS PAMP, Nicky Shiels mempertahankan perkiraan rata-rata harga emas di tahun 2026 sebesar US$ 4.500 per troy ounce.
Proyeksi itu didukung oleh faktor kondisi pasar emas yang sedang bertransisi dari reli parabolik yang tidak berkelanjutan menuju pasar bullish yang lebih sehat dan tahan lama.
Dikutip dari Kitco News, Rabu (8/7/2026), analis di perusahaan penyulingan global tersebut juga memperkirakan harga emas akan mengalami konsolidasi antara US$ 3.800 dan US$ 5.000 per troy ounce tahun ini.
Meski demikian, Nicky Shiels juga mempertahankan proyeksi skenario bullish harga emas di 2026 sebesar US$ 5.800 per troy ounce, jika gejolak geopolitik yang kembali memanas dapat mendorong harga emas ke level tertinggi baru. “Tren jangka panjang belum mereda,” ungkap Shiels.
Sebaliknya, ia memperkirakan tren bullish harga emas yang lebih ringan, lebih berkelanjutan, dan dua arah akan muncul pada paruh kedua tahun ini seiring melambatnya ekonomi AS dan investor sekali lagi fokus pada risiko makro struktural.
Alih-alih mengejar momentum, MKS PAMP berpendapat bahwa kenaikan harga emas selanjutnya akan dibangun di atas fondasi yang lebih kokoh. Menurut Shiels, pendorong jangka panjang terbesar harga emas adalah meningkatnya defisit fiskal, tekanan inflasi yang terus-menerus, pelemahan mata uang, diversifikasi bank sentral dari aset dolar AS, dan lanskap geopolitik yang semakin terfragmentasi.
Namun, ia menambahkan bahwa sebagian besar pelemahan emas baru-baru ini mencerminkan pembalikan tajam dalam posisi investor daripada penurunan fundamental jangka panjang logam mulia tersebut.
Meskipun mempertahankan prospek bullish harga emas untuk jangka panjang, Shiels juga mengakui bahwa kebijakan moneter The Fed tetap menjadi hambatan terbesar logam mulia dalam jangka pendek.
Dijelaskannya, retorika hawkish Federal Reserve di bawah kepemimpinan Kevin Warsh dapat menjaga suku bunga riil tetap tinggi dan dolar AS tetap kuat, sehingga membatasi potensi kenaikan harga emas dalam jangka pendek. Namun, terlepas dari tren tersebut, Shiels melihat ruang bagi The Fed untuk memperketat kebijakan tetap dibatasi oleh beban utang AS yang terus meningkat.








