JAKARTA, Detiktoday.com – Krisis energi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah telah mendorong bank sentral di sejumlah negara untuk mengambil langkah alternatif dalam menjaga kestabilan ekonomi. Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui aksi jual cadangan emas.
Dikutip dari Kitco News, Rabu (29/4/2026), Bank Sentral Malawi mengungkapkan telah menjual 590 kilogram emas, atau lebih dari setengah ton cadangan emasnya untuk menutupi kenaikan biaya bahan bakar minyak (BBM).
Dilaporkan, Bank Sentral Malawi mengumpulkan pemasukan US$ 78 juta dari aksi jual emas tersebut.
Juru bicara bank sentral, Boston Maliketi Banda mengatakan bahwa emas yang dijual berasal dari penambang artisanal lokal.
“Emas murni kami dalam cadangan internasional tetap tidak untuk dijual dan berada dalam penyimpanan aman Bank Federal Reserve New York,” kata Banda.
Menurut cadangan resmi, Malawi kini memiliki cadangan emas senilai US$ 61 juta. Banda menerangkan, bank sentral negara itu masih memiliki 69 kg emas artisanal yang dapat digunakan untuk menutupi biaya bahan bakar.
Meskipun Malawi telah menjual sebagian besar emas domestiknya, bank sentral mengatakan bahwa mereka akan terus membeli logam mulia tersebut dari penambang skala kecil untuk membangun kembali ketersediaan.
Ini bukan kali pertama aksi jual emas oleh bank sentral dilakukan.
Sebelumnya, Bank Sentral Rusia telah menjual hampir 22 juta ton cadangan emasnya sejak awal tahun 2026. Bank sentral tersebut melakukan aksi jual 21,8 ton emas untuk membantu membiayai defisit anggaran, yang telah meningkat menjadi US$ 61,2 miliar pada akhir Maret 2026.
Adapun Jerman yang juga mulai didorong untuk melakukan penjualan sebagian cadangan emas. Diketahui, Jerman memiliki cadangan emas yang melimpah dan beberapa ekonom serta politisi berpendapat bahwa sudah saatnya untuk memanfaatkan cadangan tersebut.