JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas dunia kembali tertekan pada perdagangan Rabu (10/6/2026), merosot lebih dari 1% hingga menyentuh level terendah dalam 11 pekan terakhir. Penurunan ini dipicu oleh penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) serta melonjaknya harga minyak mentah akibat kembali memanasnya konflik antara AS dan Iran.
Hingga pukul 02.30 GMT, harga emas di pasar spot terpantau turun 1,8% ke posisi US$ 4.187,59 per ons troi, level terendah sejak 23 Maret 2026 seperti dipantau Reuters, Rabu. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga melemah 1,7% menjadi US$ 4.213,40.
Penguatan dolar AS membuat komoditas yang dihargai dengan mata uang tersebut, seperti emas, menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Di saat yang sama, kenaikan harga minyak sebesar 1% memicu kekhawatiran baru terhadap laju inflasi. Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Kepala Makro Global di Tastylive Ilya Spivak mengungkapkan, tekanan pada emas saat ini didorong oleh perubahan ekspektasi kebijakan The Fed, kenaikan imbal hasil obligasi, dan penguatan dolar AS. “Semua faktor tersebut secara fundamental membebani pergerakan emas,” ujarnya.
Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan The Fed
Kondisi pasar semakin tidak menentu setelah AS melancarkan serangan terhadap Iran pada Selasa (9/6/2026). Langkah ini diambil setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Teheran menembak jatuh helikopter Apache AS di Selat Hormuz. Eskalasi ini merusak gencatan senjata yang rapuh dan menghapus harapan akan adanya kesepakatan damai dalam waktu dekat.
Saat ini, para pelaku pasar melihat adanya probabilitas lebih dari 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember 2026. Investor kini tengah menanti data Indeks Harga Konsumen (CPI) periode Mei dan Indeks Harga Produsen (PPI) yang akan dirilis minggu ini sebagai acuan kebijakan moneter selanjutnya.
Spivak memperingatkan bahwa jika harga emas mampu menembus level support di angka US$4.100, bukan tidak mungkin harga emas akan terkoreksi lebih dalam menuju level US$ 3.500 hingga akhir tahun. Sejalan dengan emas, harga logam mulia lainnya seperti perak, platinum, dan paladium juga terpantau ikut melemah.
Secara tradisional, emas sering dianggap sebagai safe haven saat terjadi ketidakpastian ekonomi. Namun, dinamika pasar keuangan saat ini menciptakan anomali.
Ketika konflik geopolitik seperti ketegangan AS-Iran memicu kenaikan harga minyak, risiko inflasi meningkat. Hal ini memaksa bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi guna meredam laju kenaikan harga.
Karena emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (tidak menghasilkan bunga/ dividen), daya tariknya akan berkurang di tengah lingkungan suku bunga tinggi, terutama saat investor lebih memilih memegang aset berbasis dolar yang memberikan imbal hasil lebih menarik.
Fenomena ini menjelaskan mengapa harga emas cenderung tertekan saat dolar AS menguat, meskipun situasi global sedang dalam kondisi yang tidak stabil.