JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas dunia memang sempat terkoreksi dari rekor tertingginya tahun ini. Namun, tren bullish logam mulia dinilai masih jauh dari berakhir seiring bank-bank sentral di berbagai negara terus meningkatkan kepemilikan emas sebagai aset cadangan.
Laporan terbaru Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) menunjukkan para pengelola cadangan devisa bank sentral masih sangat optimistis terhadap prospek emas. Bahkan, banyak responden memperkirakan harga emas berpotensi bergerak di kisaran US$ 5.000-6.000 per ons troi dalam 12 bulan ke depan.
Survei tersebut menegaskan, daya tarik emas tidak hanya berasal dari potensi kenaikan harga. Bagi bank sentral, emas tetap menjadi aset strategis untuk diversifikasi cadangan devisa, menjaga likuiditas, serta melindungi nilai aset di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Temuan OMFIF itu sejalan dengan survei tahunan World Gold Council (WGC) yang dirilis dua pekan sebelumnya. Sebanyak 45% bank sentral menyatakan berencana menambah cadangan emas dalam 12 bulan mendatang, menjadi persentase tertinggi sepanjang sejarah survei tersebut.
Selain itu, hampir 90% responden meyakini total cadangan emas resmi bank sentral dunia masih akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Prospek tersebut memperkuat pandangan bahwa koreksi harga emas belakangan ini lebih bersifat sementara dibandingkan perubahan tren jangka panjang.
Goldman Sachs Tetap Optimistis