Bazar Tulungagung Bernostalgia Disorot Pedagang, Keluhkan Pungutan Kebersihan hingga Listrik Sering Mati – Detiktoday.com

Bazar Tulungagung Bernostalgia Disorot Pedagang, Keluhkan Pungutan Kebersihan hingga Listrik Sering Mati – Detiktoday.com

Share
Share

Detiktoday.com, TULUNGAGUNG — Event Bazar Tulungagung Bernostalgia yang digelar di Alun-Alun Tulungagung, Jawa Timur, selama tiga hari, Jumat-Minggu (7-9 Agustus 2026), menuai sorotan dari sejumlah pedagang. Keluhan mencuat mulai dari pungutan kebersihan, listrik yang disebut kerap padam, hingga dugaan ketidaksiapan penyelenggara mengelola ratusan stan UMKM.

Kegiatan yang menghadirkan 216 stan pelaku UMKM, mayoritas bergerak di sektor kuliner, tersebut semula direncanakan dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulungagung H. Ahmad Baharudin, S.M., M.M. Namun, pembukaan akhirnya dilakukan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tulungagung, Muhammad Adrian Candra, S.STP., pada Jumat (7/8/2026).

Di tengah semangat menghidupkan kembali suasana pasar jadul atau zaman dulu, keluhan justru datang dari pedagang yang mengikuti event tersebut.

Salah seorang pedagang yang meminta identitasnya tidak disebutkan mengaku keberatan dengan adanya pungutan uang kebersihan sebesar Rp5.000 per hari. Jika dihitung selama tiga hari pelaksanaan bazar, pedagang harus mengeluarkan tambahan Rp15.000.

“Lha, ini kok pihak panitia keliling narik uang kebersihan Rp5.000 dikalikan tiga hari itu Rp15 ribu. Piye iki panitia?” keluh pedagang tersebut.

Menurut dia, persoalan pungutan kebersihan menjadi pertanyaan karena dalam rapat teknis sebelum pelaksanaan kegiatan disebutkan bahwa urusan kebersihan merupakan bagian dari penanganan pemerintah daerah melalui sektor terkait.

“Belum lagi masalah listrik kok sering mati. Gimana saya bisa berjualan?” imbuhnya.

Keluhan pedagang tidak berhenti pada persoalan kebersihan dan listrik. Pedagang tersebut juga menyoroti keberadaan pedagang yang disebutnya ikut berjualan di sekitar area bazar pada hari pertama kegiatan.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya persoalan dalam pengaturan area bazar yang melibatkan ratusan pelaku UMKM.

“Lebih parah lagi, sebelum hari pertama event banyak pedagang liar yang turut berjualan di area bazar. Menurut saya itu bertanda panitia sangat tidak siap sebagai penyelenggara bazar yang menghadirkan ratusan pedagang,” ujarnya.

Pedagang juga mempertanyakan alasan adanya pungutan kebersihan apabila kegiatan tersebut berlangsung di area yang merupakan aset Pemerintah Kabupaten Tulungagung.

“Ini lokasinya aset Pemkab Tulungagung. Kenapa untuk kebersihan harus memungut kami sebagai pedagang kecil? Bukankah tugas kebersihan itu dari dinas terkait yang sudah digaji pemerintah?” katanya.

Biaya Stan Rp600 Ribu, Pedagang Minta Pelayanan Sesuai Kesepakatan

Pedagang tersebut menyebut biaya resmi untuk menempati satu stan mencapai Rp600.000. Biaya itu, menurutnya, sudah termasuk fasilitas tenda dan listrik selama kegiatan berlangsung.

Karena itu, ia berharap penyelenggara tidak hanya menekankan kewajiban pedagang, tetapi juga memenuhi fasilitas dan pelayanan sebagaimana kesepakatan awal.

“Panitia selalu menyampaikan agar kami menaati aturan dan akan memberikan sanksi kepada pedagang yang terbukti melanggar kesepakatan, termasuk mencabut hak penggunaan stan. Tapi keluhan kami sebagai pedagang sepertinya hanya diabaikan,” ujarnya.

Ia bahkan menilai penyelenggara seharusnya lebih memperhatikan kepentingan pedagang karena event tersebut membawa nama Tulungagung Bernostalgia dan berlangsung di ruang publik milik pemerintah daerah.

“Pihak panitia sepertinya hanya memikirkan keuntungan saja. Sayang kalau akhirnya justru mencoreng nama Pemkab Tulungagung. Semoga ada teguran dari Pemkab Tulungagung,” harapnya.

Koordinator Bazar Pilih Tak Banyak Berkomentar

Keluhan tersebut kemudian dikonfirmasi kepada Maharani selaku Koordinator Tulungagung Bernostalgia melalui pesan WhatsApp pada Minggu (9/8/2026) pagi.

Namun, Maharani memilih memberikan jawaban singkat.

“Sampun pak kersane panjenengan mawon. Terima kasih,” jawab Maharani.

Respons singkat tersebut belum memberikan penjelasan substantif mengenai mekanisme pungutan kebersihan, gangguan listrik, maupun pengaturan pedagang di luar stan yang dipersoalkan.

Dengan demikian, sejumlah keluhan pedagang masih membutuhkan penjelasan dari pihak penyelenggara maupun pihak terkait di Pemerintah Kabupaten Tulungagung agar persoalan tersebut tidak berkembang menjadi persepsi negatif.

Bazar Digelar untuk Dorong UMKM Lokal

Sebagaimana diketahui, Bazar Tulungagung Bernostalgia mengusung konsep pasar jadul atau zaman dulu. Kegiatan ini melibatkan ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.

Event tersebut diharapkan menjadi ruang promosi sekaligus pemasaran produk UMKM Tulungagung serta ikut mendorong perputaran ekonomi masyarakat.

Namun, tujuan tersebut akan sulit tercapai apabila persoalan teknis di lapangan tidak segera dibenahi. Pedagang sebagai pelaku utama dalam event tersebut membutuhkan kepastian fasilitas, transparansi biaya, serta pelayanan yang sesuai dengan kesepakatan.

Kini, sorotan bukan lagi semata soal ramainya bazar, tetapi menyangkut bagaimana penyelenggara memastikan event yang membawa nama Tulungagung itu berjalan tertib, transparan, dan benar-benar berpihak kepada UMKM.

Pemkab Tulungagung pun layak memastikan seluruh persoalan yang dikeluhkan pedagang mendapat klarifikasi dan solusi, sehingga semangat menggerakkan ekonomi lokal tidak justru menyisakan kekecewaan bagi pelaku usaha yang menjadi bagian utama kegiatan.

Share