BI Sebut Kondisi Cadangan Devisa Masih Cukup untuk Jaga Stabilitas RupiahBI Sebut Kondisi Cadangan Devisa Masih Cukup untuk Jaga Stabilitas Rupiah

BI Sebut Kondisi Cadangan Devisa Masih Cukup untuk Jaga Stabilitas RupiahBI Sebut Kondisi Cadangan Devisa Masih Cukup untuk Jaga Stabilitas Rupiah

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Bank Indonesia (BI) memandang kondisi cadangan devisa tetap terjaga dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pada saat yang sama, BI tetap melakukan sejumlah langkah untuk meredam pelemahan rupiah.

Gubernur BI Perry Warjiyo memastikan, pihaknya selalu mengukur jumlah cadangan devisa yang cukup. BI menggunakan acuan dari Lembaga Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) yaitu adequacy reserve asset. Acuan ini dipakai untuk mengukur apakah aset cadangan devisa bank sentral cukup untuk menanggung risiko eksternal dan menjaga stabilitas ekonomi.

“Kami ukur-ukur itu dan sekarang masih lebih dari 115%. Jadi masih lebih dari cukup itu. Di samping yang sekitar 6 bulan impor. Jadi jangan khawatir jumlah cadangan devisa lebih dari cukup,” ucap Perry kepada awak media di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta, pada Selasa (9/8/2026).

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), posisi cadangan devisa mencapai US$ 144,9 miliar pada Mei 2026. Pada Januari 2026, posisi cadangan devisa tercatat sebesar US$ 154,6 miliar, kemudian turun menjadi US$ 151,9 miliar pada Februari dan kembali menurun menjadi US$ 148,2 miliar pada Maret. Tren pelemahan tersebut berlanjut pada April dengan posisi US$ 146,2 miliar, sebelum mencapai US$ 144,9 miliar pada Mei 2026.

Kondisi cadangan devisa Mei 2026 ini dipengaruhi penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa.

Kondisi cadangan devisa juga ikut terdampak pembayaran utang luar negeri (ULN) pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global dan permintaan valuta asing musiman dari domestik.

Secara keseluruhan, posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 tetap kuat, setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Sebelumnya, Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan hal yang perlu diperhatikan adalah konsistensi tren cadangan devisa tersebut. Saat cadangan devisa terus berkurang selama beberapa bulan berturut-turut, artinya tekanan terhadap sektor eksternal masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda mereda secara meyakinkan.

“Walaupun posisi cadangan devisa saat ini masih tergolong kuat dan berada jauh di atas standar kecukupan internasional, ruang gerak kebijakan secara bertahap menjadi lebih sempit dibandingkan awal tahun,” tutur Yusuf.

Sederet Faktor yang Perlu Menjadi Perhatian

Share