Optimisme senada disampaikan oleh Caroline Mauron, salah satu pendiri Orbit Markets. Ia menilai pasar kripto sedang dalam suasana bullish dalam beberapa minggu terakhir. Menurutnya, jika Bitcoin mampu menembus angka US$ 80.000, maka peluang kenaikan lebih lanjut akan terbuka lebar.
Kembalinya Arus Modal ke ETF
Pulihnya harga Bitcoin juga didorong oleh kembalinya aliran dana ke instrumen Exchange-Traded Funds (ETF) Bitcoin spot di bursa AS. Sebanyak 13 dana ETF mencatatkan arus masuk bersih (net inflow) lebih dari US$ 250 juta sepanjang minggu ini, menyusul angka fantastis US$ 996,4 juta pada pekan sebelumnya.
Pemulihan ini menjadi napas lega bagi investor setelah Bitcoin sempat kehilangan hampir 40% nilainya dari level tertinggi US$ 126.000 pada Oktober 2025 akibat aksi jual besar-besaran yang mengguncang pasar kripto global.
Kenaikan Bitcoin di tengah isu geopolitik menandai babak baru dalam narasi aset digital sebagai “emas digital” modern. Sejak pecahnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran pada akhir Februari 2026, pasar keuangan global mengalami volatilitas tinggi.
Awalnya, Bitcoin sempat tertekan hingga jatuh ke kisaran US$ 65.000 akibat kekhawatiran gangguan rantai pasok global dan inflasi energi.
Namun, dalam perjalanannya, Bitcoin justru menunjukkan korelasi yang unik. Berbeda dengan aset tradisional yang cenderung melambat saat ketegangan politik mereda, Bitcoin justru merespons berita perdamaian (seperti gencatan senjata) dengan penguatan nilai yang signifikan.
Hal ini menunjukkan investor mulai melihat kripto bukan hanya sebagai lindung nilai risiko, tetapi juga sebagai aset pertumbuhan yang diuntungkan oleh stabilitas ekonomi makro.
Kondisi ini sangat kontras dengan situasi pada akhir 2025, saat pasar kripto mengalami crash hebat dari level tertinggi sepanjang masa US$ 126.000. Pemulihan saat ini, yang didukung oleh instrumen institusional seperti ETF Spot, menandakan matangnya ekosistem kripto dalam menghadapi guncangan politik internasional.