Bitcoin (BTC) Lampaui US$ 82.000 Usai Trump Tolak Usulan Damai Iran

Bitcoin (BTC) Lampaui US$ 82.000 Usai Trump Tolak Usulan Damai Iran

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan taringnya di tengah memanasnya tensi geopolitik. Pada Minggu (Senin pagi WIB), aset kripto ini terpantau melonjak hingga 2,3%. Pasalnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak usulan perdamaian dari Iran yang ia nilai sama sekali tidak dapat diterima.

Sesaat setelah Trump mengunggah pernyataannya di platform media sosialnya Truth Social, Bitcoin sempat mengalami penurunan singkat dari US$ 81.430 ke level US$ 80.520 dalam waktu 45 menit. Namun, tak butuh waktu lama, harga justru berbalik arah (whipsaw) dan melonjak hingga ke level US$ 82.347, sebagaimana dikutip Cointelegraph, Senin (11/5/2026).

Lonjakan ini memicu likuidasi besar-besaran bagi para trader yang mengambil posisi short (bertaruh pada penurunan harga). Data dari Coinglass mencatat sekitar US$ 64 juta posisi short hangus hanya dalam waktu empat jam.

Trump merasa keberatan dengan tuntutan Iran dalam kesepakatan damai tersebut. “Saya tidak menyukainya — SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA,” tegas Trump. Diketahui, Iran meminta AS membayar ganti rugi perang dan mencairkan aset-aset keuangan Iran yang selama ini dibekukan.

Ketegangan ini juga memukul pasar komoditas. Harga minyak dunia melonjak 4,6% ke angka US$ 98,7 per barel akibat kekhawatiran gangguan di Selat Hormuz, jalur krusial yang mengangkut seperlima perdagangan minyak dunia.

Menanti Kepastian Regulasi di AS

Meskipun dibayangi perang, analis melihat adanya sentimen positif dari sisi regulasi di AS pekan ini. CEO 10x Research Markus Thielen menyebutkan dua katalis utama yang dapat memperkuat posisi Bitcoin di level US$ 80.000:

  1. Konfirmasi Gubernur The Federal Reserve (The Fed): Pemungutan suara Senat untuk Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve yang baru.

  2. RUU CLARITY: Pembahasan CLARITY Act oleh Komite Perbankan Senat pekan lalu, yang dianggap sebagai undang-undang kripto paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

“Kedua peristiwa ini cenderung bullish untuk Bitcoin. Kejelasan regulasi akan mengurangi hambatan institusional,” ujar Thielen.

Konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran pecah pada 28 Februari 2026, menyusul serangan udara AS yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Insiden ini memicu perang skala besar yang melibatkan sengketa kontrol atas Selat Hormuz.

Sejak pecahnya perang, Bitcoin telah mencatatkan kenaikan sebesar 29,7%, membuktikan perannya sebagai aset Safe Haven digital di mata investor. Meskipun sempat menyentuh angka tertinggi di US$ 126.080 pada Oktober tahun lalu, performa Bitcoin saat ini tetap melampaui indeks S&P 500 dan emas di tengah ketidakpastian global yang masih menyelimuti Timur Tengah.

Share