JAKARTA, Detiktoday.com – Harga Bitcoin sempat merangkak naik dan menyentuh angka US$ 60.000 pada perdagangan Senin (29/6/2026). Sentimen pasar global membaik setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda. Namun, penguatan ini tidak bertahan lama.
Aksi jual massal yang masif segera mengikis keuntungan tersebut dan membawa Bitcoin kembali ke zona merah.
Membaiknya sentimen pasar dipicu oleh kesepakatan darurat antara Amerika Serikat dan Iran pada Senin pagi. Kedua negara sepakat menahan diri dari eskalasi konflik yang sempat memanas pada akhir pekan lalu. Langkah ini menghentikan serangan militer langsung dan memastikan jalur perdagangan kapal komersial di Selat Hormuz kembali aman.
Meskipun masalah blokade laut dan regulasi maritim masih rumit, kedua belah pihak berhasil meredam risiko perang regional berskala penuh. Proses penyelesaian konflik ini pun resmi dialihkan ke jalur negosiasi teknis yang dijadwalkan berlangsung di Doha, Qatar.
Kabar baik ini sempat mendorong para trader untuk kembali memburu aset berisiko. Bitcoin pun terdorong hingga melewati level psikologis US$ 60.000, sekaligus memaksa para trader yang memasang posisi short (jual) untuk segera menutup posisi mereka (short cover).
Dari Tembok Pertahanan Jadi Penghalang
Sayangnya, pemulihan ini langsung kandas begitu menyentuh area US$ 60.000. Wilayah yang dulunya merupakan level dukungan (support) kuat kini telah berubah menjadi zona resistensi (resistance) atau penghalang utama.
Momen kenaikan ini justru dimanfaatkan oleh para investor institusi dan pemegang Bitcoin jangka panjang untuk mengurangi porsi kepemilikan aset mereka guna mengamankan modal.
Aksi jual yang masif di pasar spot langsung melahap habis daya beli sebelum momentum kenaikan sempat menguat.
Berdasarkan data dari CoinGecko, Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran US$ 59.722, turun sekitar 0,5% dalam 24 jam terakhir. Secara akumulatif, mata uang kripto nomor satu ini telah merosot 6,5% dalam sepekan terakhir dan anjlok hingga 18,7% sepanjang bulan lalu.
Tekanan dari Investor Institusi dan Faktor Inflasi AS
Tekanan di pasar kripto kian diperberat oleh hengkangnya dana dari investor institusi. Dalam dua bulan terakhir, instrumen Spot Bitcoin ETF mencatat arus modal keluar bersih (net outflows) mencapai lebih dari US$ 7 miliar. Angka ini membalikkan sebagian besar tren pembelian masif yang sempat mendorong Bitcoin ke level tertinggi barunya beberapa waktu lalu.
Di saat yang sama, data likuidasi dari CoinGlass menunjukkan adanya penghapusan posisi perdagangan kripto senilai US$ 147,4 juta dalam 12 jam terakhir.
Likuidasi ini didominasi oleh posisi long (beli) sebesar US$ 116,1 juta, berbanding terbalik dengan posisi short yang hanya US$ 31,4 juta. Bitcoin menyumbang angka likuidasi terbesar, yaitu US$ 64,3 juta, disusul oleh Ethereum sebesar US$ 36,7 million.
Selain faktor teknis pasar, para pelaku pasar juga mencemaskan inflasi yang masih membandel di Amerika Serikat. Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) yang naik 4,1% memicu spekulasi bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Tingginya biaya pinjaman ini membuat investor lebih memilih memindahkan modal mereka ke saham-saham berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) ketimbang aset kripto.