SINGAPURA, Detiktoday.com – Pasar kripto kembali bergairah pada perdagangan Senin (27/4/2026). Harga Bitcoin terus merangkak naik menuju level psikologis US$ 80.000 (sekitar Rp 1,4 miliar), didorong oleh optimisme investor terhadap perkembangan terbaru konflik Amerika Serikat dan Iran terkait jalur perdagangan vital, Selat Hormuz.
Mata uang kripto nomor satu dunia ini sempat melonjak hingga 1,6% ke angka US$ 79.488, level tertinggi sejak akhir Januari 2026 seperti dipantau Bloomberg, Senin (27/6/2026). Tak hanya Bitcoin, aset digital terbesar kedua, Ether, juga ikut terkerek naik sekitar 1,7%.
Sentimen positif ini berawal dari laporan Axios yang menyebutkan, pihak Iran telah menawarkan usulan baru kepada AS untuk membuka kembali Selat Hormuz. Selama masa perang dengan AS dan Israel, penutupan jalur air kritis ini telah memicu gejolak besar pada harga minyak dan aset berisiko lainnya.
Kabar mengenai kemungkinan kesepakatan damai ini langsung membuat bursa saham Asia menghijau dan memaksa harga minyak mentah sedikit melandai.
“Risiko itu nyata. Peluang kesepakatan damai AS-Iran yang sempat runtuh kini kembali memberikan harapan, sebuah faktor makro yang bisa mengubah harga aset berisiko secara luas,” ungkap analis BTC Markets Rachael Lucas seperti dikutip Bloomberg, Senin.
Akumulasi Masif Institusi
Kenaikan Bitcoin sepanjang April ini telah mencapai 16%, menjadikannya bulan dengan keuntungan dua digit pertama sejak Mei 2025. Selain faktor geopolitik, lonjakan ini juga dipicu oleh aksi beli besar-besaran dari pihak institusi.
Strategy Inc, perusahaan pemburu Bitcoin yang dipimpin oleh Michael Saylor, dilaporkan telah memborong Bitcoin senilai US$ 3,9 miliar (sekitar Rp 61 triliun) sepanjang bulan ini saja, pembelian terbesar mereka dalam satu tahun terakhir.
Dukungan juga datang dari instrumen ETF Bitcoin Spot di AS yang mencatat pemulihan permintaan yang signifikan. Aliran dana masuk bersih (net inflows) pada April mencapai US$ 2,5 miliar, dua kali lipat dari total pada Maret 2026. Para pembeli institusional tampaknya telah kembali ke pasar setelah sempat mencatatkan arus keluar selama empat bulan berturut-turut.
Mungkin terdengar asing mengapa konflik di jalur air seperti Selat Hormuz bisa memengaruhi harga aset digital seperti Bitcoin. Jawabannya terletak pada konsep “Aset Berisiko” (Risk Assets) dan stabilitas ekonomi makro.
Selat Hormuz adalah jalur pengiriman minyak paling penting di dunia, yang menghubungkan produsen minyak di Timur Tengah dengan pasar utama di seluruh dunia. Ketika terjadi konflik bersenjata di wilayah ini, pasokan minyak dunia terancam, yang menyebabkan harga energi melonjak drastis dan memicu inflasi global.
Dalam kondisi ketidakpastian perang yang ekstrem, investor cenderung menarik modal mereka dari aset-aset berisiko (seperti saham dan kripto) untuk mengamankan uang mereka di aset aman seperti emas. Namun, begitu ada harapan akan perdamaian atau pembukaan kembali jalur perdagangan, kepercayaan diri investor pulih.
Mereka kembali berani menempatkan modal di pasar kripto, yang sering kali memberikan imbal hasil lebih tinggi saat kondisi ekonomi stabil. Inilah yang menyebabkan “sinyal damai” dari Iran langsung direspons dengan lonjakan harga Bitcoin di bursa global.