JAKARTA, Detiktoday.com – Ahli strategi pasar menilai bahwa emas terus memainkan peran sebagai aset moneter dan diversifikasi portofolio, meski sempat mengalami penurunan harga.
Dikutip dari Kitco News, Rabu (6/5/2026) Kepala Strategi Alternatif di Ned Davis Research, John LaForge mengatakan bahwa investor bisa melihat koreksi harga emas baru-baru ini sebagai peluang untuk melakukan aksi beli.
Menurutnya, sinyal aksi beli emas baru-baru ini dipicu oleh pesimisme di pasar dan pelemahan kembali dolar AS.
LaForge menyarankan investor untuk mempertimbangkan memegang antara 3% dan 8% portofolio investasi mereka dalam emas.
“Bagi para pengalokasi yang saat ini memiliki bobot investasi rendah atau tanpa eksposur sama sekali, kerangka kerja kami mendukung untuk mulai membangun posisi strategis daripada menunggu penurunan harga untuk menentukan waktu masuk,” paparnya.
Di sisi lain, LaForge juga mengingatkan bahwa emas telah memainkan peran yang berbeda selama bertahun-tahun sebagai lindung nilai inflasi atau aset safe haven. Ia menyebut peran emas dapat terpecah antara menjadi alat diversifikasi dan aset moneter.
Dikatakan, emas memasuki kinerja terbaiknya ketika asumsi investasi gagal atau melemah.
“Emas memiliki korelasi historis yang rendah atau negatif dengan saham dan obligasi, terutama selama tekanan keuangan,” jelas LaForge.
“Pada tahun 2022, ketika saham dan obligasi sama-sama jatuh; emas tetap stabil. Intinya adalah bahwa portofolio yang terdiversifikasi di berbagai aset yang semuanya jatuh bersamaan sebenarnya tidak terdiversifikasi. Korelasi rendah emas terhadap saham dan obligasi secara konsisten membantu portofolio dari waktu ke waktu,” imbuhnya.
LaForge menambahkan bahwa meskipun emas tidak memiliki rekam jejak yang kuat sebagai lindung nilai inflasi, emas berkinerja terbaik ketika ada keraguan dalam sistem keuangan itu sendiri.