Jakarta, Detiktoday.com – Konsultan dan Perencana Keuangan, Elvi Diana CFP, meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah untuk mengungkapkan secara spesifik, rinci, dan transparan faktor-faktor yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan tajam sepanjang Mei 2026 hingga memicu aksi jual investor asing senilai Rp4,1 triliun.
Menurut Elvi, pernyataan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, yang menyebut tekanan di pasar saham merupakan respons investor terhadap kombinasi berbagai faktor domestik dan global, belum memberikan penjelasan yang memadai kepada publik dan pelaku pasar.
”Publik, terutama investor, membutuhkan penjelasan yang konkret dan terukur mengenai faktor-faktor yang menyebabkan IHSG terpuruk. Pernyataan yang hanya menyebut adanya kombinasi faktor domestik dan global tanpa uraian yang spesifik justru menimbulkan ketidakpastian baru di pasar,” ujar Elvi dalam keterangannya, Sabtu (6/6/2026).
Elvi menilai, penjelasan OJK yang hanya menyoroti faktor penyesuaian portofolio investor atau rebalancing akibat perubahan komposisi indeks oleh sejumlah penyedia indeks global tidak cukup untuk menjawab keresahan pasar. Menurutnya, jika memang terdapat faktor-faktor lain yang lebih dominan, baik terkait kondisi ekonomi nasional, kebijakan fiskal dan moneter, sentimen investasi, maupun kondisi geopolitik global, maka seluruhnya harus disampaikan secara terbuka kepada publik.
”Keterbukaan informasi merupakan kunci untuk memulihkan kepercayaan investor. Pasar membutuhkan kepastian, bukan sekadar penjelasan umum yang multitafsir,” tegasnya.
Sebagaimana diketahui, IHSG ditutup pada level 6.127,38 pada akhir Mei 2026. Posisi tersebut terkoreksi 11,92 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan merosot 29,14 persen secara year to date (ytd). Di tengah tekanan tersebut, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp4,1 triliun di pasar saham selama Mei 2026.
Lebih lanjut, Elvi meminta pemerintah tidak hanya memberikan penjelasan, tetapi juga mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi pelemahan pasar modal yang berkepanjangan. Menurutnya, pemerintah perlu menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga stabilitas ekonomi, memperbaiki iklim investasi, serta mengembalikan kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek perekonomian nasional.
”Penurunan IHSG yang sangat dalam tidak boleh dianggap sebagai fenomena biasa. Pemerintah harus segera mengidentifikasi akar persoalan dan menghadirkan kebijakan yang mampu mengembalikan optimisme investor,” katanya.
Selain itu, Elvi juga meminta Komisi XI DPR RI untuk menjalankan fungsi pengawasan secara aktif terhadap respons pemerintah dan otoritas terkait dalam menghadapi kemerosotan pasar saham nasional.
”Komisi XI DPR RI memiliki fungsi pengawasan terhadap kebijakan sektor keuangan dan perekonomian. Oleh karena itu, DPR perlu memastikan pemerintah dan regulator bekerja secara efektif, transparan, dan akuntabel dalam menangani situasi ini,” ujarnya.
”Kepercayaan investor adalah aset yang sangat berharga. Ketika kepercayaan itu terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pasar modal, tetapi juga oleh perekonomian nasional secara keseluruhan,” pungkasnya.