NEW YORK, Detiktoday.com – Setelah terus-menerus tertekan sepanjang tahun ini, harga emas akhirnya mulai bernapas lega. Harga emas di pasar spot melonjak 1,4% pada perdagangan Jumat (3/7/2026), menempatkan logam mulia ini pada jalur kenaikan mingguan pertamanya dalam lima pekan terakhir.
Hingga pukul 04.30 waktu timur AS (ET), emas spot diperdagangkan di kisaran US$ 4.182,28 per ons dan bersiap mengunci kenaikan mingguan sebesar 2,3%. Ini merupakan reli mingguan pertama bagi emas sejak akhir Mei 2026. Sejalan dengan itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk bulan depan juga ikut merangkak naik 1,5%.
Sepanjang tahun 2026, harga emas sebenarnya sempat babak belur akibat kekhawatiran inflasi yang tinggi, keperkasaan dolar AS, serta kebijakan agresif (hawkish) bank-bank sentral dunia pasca-pecahnya perang AS-Iran.
Bahkan, emas baru saja melewati kuartal terburuknya dalam 13 tahun terakhir pada periode April–Juni, dan saat ini posisinya masih anjlok sekitar 22% dari rekor tertinggi sepanjang masa yang sempat menyentuh di atas $5.300 per ons pada Januari 2026.
Data Tenaga Kerja AS Jadi “Dewa Penyelamat”
Kebangkitan harga emas minggu ini dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan AS (Nonfarm Payrolls) pada hari Kamis.
Data menunjukkan ekonomi Amerika Serikat hanya menambah 57.000 lapangan kerja pada Juni 2026. Angka ini merosot tajam dari Mei (129.000) dan jauh di bawah prediksi para analis Dow Jones yang memperkirakan angka 115.000.
Melemahnya data tenaga kerja ini langsung membuat para investor memangkas taruhan mereka terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed). Berdasarkan alat FedWatch milik CME, peluang The Fed untuk menaikkan suku bunga pada bulan September nanti kini turun menjadi 53,5%, dari yang sebelumnya sempat diperkirakan mencapai 65%.
Kondisi ini langsung dimanfaatkan investor untuk kembali memburu aset logam mulia. Tidak hanya emas, harga perak spot juga melesat 2,9% ke level US$ 62,77 per ons (naik 6,7% dalam sepekan), sementara platinum naik 2,8% menjadi US$ 1.660,10, dan paladium terangkat 1% ke posisi US$ 1.280,09.
Para analis dari OCBC menyatakan mulai bersikap optimis secara hati-hati terhadap prospek emas ke depan.
“Emas bisa melanjutkan pemulihannya jika data ekonomi AS terus menekan imbal hasil riil dan dolar AS. Namun, karena risiko inflasi global belum sepenuhnya hilang, investor tetap perlu waspada terhadap pergerakan taktis jangka pendek,” tulis mereka dalam sebuah catatan resmi.
Pasar logam mulia baru saja melewati masa-masa fluktuatif dalam dua tahun terakhir. Pada 2025, emas dan perak sempat mencetak reli rekor yang luar biasa dengan lonjakan masing-masing sebesar 66% dan 135% sepanjang tahun akibat ketidakpastian ekonomi global. Tren positif tersebut awalnya sempat berlanjut ke awal 2026.
Namun, peta permainan berubah total sejak akhir Januari dan Februari 2026. Gejolak perdagangan yang ekstrem membuat kontrak berjangka perak mengalami kejatuhan harian terbesar sejak era 1980-an.
Ditambah lagi, pecahnya konflik militer antara AS dan Iran secara tidak terduga justru merusak status historis emas sebagai aset aman (safe haven), karena pasar lebih memilih beralih ke mata uang dolar AS yang menguat dan imbal hasil obligasi yang tinggi akibat lonjakan inflasi energi.