JAKARTA, Detiktoday.com – Ahli logam mulia menilai bahwa emas masih memiliki prospek positif dari tingginya permintaan oleh bank sentral, meski mengalami penurunan harga imbas sentimen terkait konflik di Timur Tengah.
Dikutip dari Kitco News, Selasa (9/6/2026), analis logam mulia di Heraeus mencatat bahwa emas baru-baru ini melampaui posisi obligasi pemerintah AS (Treasuries) sebagai aset cadangan bank sentral yang paling diincar.
“(Bank Sentral Eropa) ECB memperkirakan bahwa secara global emas mewakili 27% dari aset resmi pada akhir tahun 2025, melampaui obligasi pemerintah AS sebesar 22%,” papar ahli emas tersebut.
Catatan ECB mengungkapkan, bank sentral mulai menambahkan emas dalam jumlah yang lebih besar ke cadangan mereka sejak tahun 2011, dan skalanya meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, dengan 863 ton pada tahun 2025 dan lebih dari 1.000 ton ditambahkan setiap tahun dari tahun 2022 hingga 2024.
Namun, harga emas tidak mendapat momentum dari sentimen tentang konflik di Timur Tengah serta penutupan Selat Hormuz yang mempengaruhi arus cadangan minyak.
“Jika kondisi itu menyebabkan perlambatan ekonomi, maka dalam waktu dekat bank sentral mungkin akan mempertimbangkan untuk menurunkan suku bunga, bukan menaikkannya, meskipun inflasi tinggi. Hal itu akan menyebabkan suku bunga riil turun, yang biasanya merupakan lingkungan yang baik untuk emas,” kata analis di Heraeus.
Sebelumnya, bank-bank investasi ternama di dunia, yakni JP Morgan dan Goldman Sachs hingga ANZ mempertahankan prospek bullish harga emas untuk jangka panjang.
Untuk jangka pendek, JP Morgan menurunkan perkiraan rata-rata harga emas tahun 2026 dari US$ 5.708 menjadi US$ 5.243 per troy ounce. Kemudian untuk akhir tahun 2026, JP Morgan tetap mempertahankan proyeksi harga emas di kisaran US$ 6.000 per troy ounce.
Adapun Goldman Sachs juga mempertahankan prospek positif harga emas hingga akhir 2026 di level US$ 5.400 per troy ounce.