​Guna Jaga Rupiah, Banggar DPR Desak Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga hingga 75 Bps Hari Ini

​Guna Jaga Rupiah, Banggar DPR Desak Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga hingga 75 Bps Hari Ini

Share
Share

​Jakarta, Detiktoday.com – Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, mendorong Bank Indonesia (BI) untuk mengambil langkah berani dengan menaikkan suku bunga acuan. 

Desakan ini disampaikan menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung, Rabu (20/5).

​Said menekankan bahwa kondisi ekonomi global saat ini masih berada di bawah tekanan besar, terutama dipicu oleh kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang diprediksi akan tetap ketat dalam waktu lama.

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

​”Situasi global sedemikian rupa, bahkan kita jangan pernah berharap suku bunga Amerika akan turun dalam waktu dekat,” ujar Said saat ditemui wartawan di Jakarta, Rabu (20/5).

​Menurut Said, tekanan eksternal tersebut berpotensi terus menggerus nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, ia menilai bank sentral perlu memberikan respons kebijakan moneter yang lebih agresif demi menjaga stabilitas mata uang garuda.

​Tidak tanggung-tanggung, Said berharap BI dapat mengerek BI Rate secara signifikan dalam rapat hari ini. 

“Saya berharap BI hari ini dalam rapatnya bisa menaikkan (suku bunga) sebesar 50 atau 75 basis poin (bps) untuk menahan gejolak rupiah kita,” ungkapnya.

​Di sisi lain, proyeksi sedikit berbeda datang dari pasar. Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan peluang kenaikan suku bunga acuan justru baru akan terjadi pada Juni 2026 mendatang.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

​Menurut analisis Ibrahim, BI kemungkinan besar baru akan mengerek BI Rate sebesar 25 hingga 50 bps pada bulan depan.

​”Ada kemungkinan besar Bank Sentral Indonesia dalam pertemuan di bulan Juni nanti akan menaikkan suku bunga,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Jumat (15/5/2026).

​Ibrahim menjelaskan bahwa selain faktor global, pelemahan rupiah juga dipicu oleh lonjakan kebutuhan dolar AS di dalam negeri. Salah satu pemicu utamanya adalah tingginya kebutuhan korporasi untuk membayar impor minyak mentah, yang pada akhirnya memberikan tekanan berlapis terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.

Share