NEW YORK, Detiktoday.com – Harga emas dunia merosot lebih dari 2% pada Selasa (21/4/2026), tertekan penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil (yiled) obligasi Amerika Serikat (AS). Pelaku pasar juga bersikap hati-hati menanti perkembangan negosiasi AS dan Iran.
Harga emas spot ditutup ambles 2,08% ke level US$ 4.720,28 per ons troy, menjadi yang terendah dalam lebih dari sepekan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni ditutup jatuh 1,87% ke US$ 4.738,5 per ons troy.
Dikutip dari Reuters, penguatan dolar AS turut menekan harga emas, karena membuat logam mulia tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga mengalami kenaikan.
Analis pasar dari RJO Futures Bob Haberkorn mengatakan, kombinasi kenaikan yield dan penguatan dolar menjadi faktor utama tekanan terhadap emas.
“Kenaikan imbal hasil dan dolar memberi tekanan pada emas, ditambah banyaknya berita dan sinyal yang beragam terkait situasi Iran yang juga mendorong harga energi naik, sehingga menekan logam,” ujarnya.
Ketidakpastian geopolitik turut memperburuk sentimen. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan tidak ingin memperpanjang gencatan senjata dengan Iran dan menegaskan militer AS siap bertindak jika negosiasi gagal.
Pernyataan tersebut mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 3%, memperkuat kekhawatiran lonjakan inflasi global. Sejak konflik AS dan Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari, harga energi memang terus mengalami tekanan ke atas.
Kondisi ini membuat prospek penurunan suku bunga menjadi semakin suram. Padahal, emas yang tidak memberikan imbal hasil biasanya lebih diminati saat suku bunga rendah.
Pantau Calon Ketua The Fed