Negara Ini Gencar Borong Emas demi Perkuat Cadangan DevisaNegara Ini Gencar Borong Emas demi Perkuat Cadangan Devisa

Harga Emas Anjlok ke Level Terendah dalam Dua Bulan

Share
Share

JAKARTA, Detiktoday.com – Harga emas dunia merosot tajam hingga menyentuh level terendah dalam dua bulan terakhir pada perdagangan Kamis (28/5/2026). Ketidakpastian baru terkait konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu penguatan mata uang dolar AS sekaligus melambungkan harga minyak mentah dunia.

Berdasarkan data pasar finansial pada pukul 03.43 waktu Eastern Time (ET), harga emas di pasar spot ambrol sekitar 1,6% ke level US$ 4.385,85 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk bulan terdekat ditutup melemah 1,3% di level US$ 4.389,70 per ons.

Penurunan ini membawa harga emas spot ke titik terendahnya sejak 26 Maret lalu. Aksi jual masif (sell-off) terjadi seiring menguatnya indeks dolar AS, yang membuat investasi emas menjadi lebih mahal bagi para pemegang mata uang selain greenback.

Proyeksi Harga Emas ke Depan: Tetap Optimistis?

Kendati sedang tertekan, para ahli strategi dari bank investasi UBS tetap mempertahankan pandangan optimistis (bullish) mereka.

Dalam catatan risetnya, UBS menjelaskan tekanan pada emas akibat perang AS-Iran dipicu oleh kekhawatiran pasar. Tingginya harga energi dikhawatirkan akan memaksa Bank Sentral AS (The Fed) dan bank sentral dunia lainnya memperketat kebijakan moneter mereka. Namun, emas diprediksi akan kembali melesat begitu ekspektasi kenaikan suku bunga mulai mereda.

Meski begitu, UBS baru-baru ini memangkas target harga emas akhir tahun dari yang sebelumnya US$ 5.900 per ons menjadi US$ 5.500 per ons.

“Kami tetap positif terhadap prospek emas dan terus memandang logam mulia ini sebagai instrumen diversifikasi portofolio yang baik,” ujar Mark Haefele, Chief Investment Officer di UBS Global Wealth Management.

Di sisi lain, Bank of America (BofA) memasang target harga emas akhir tahun di level US$ 5.093 per ons atau sekitar 16% lebih tinggi dari harga spot saat ini, sebelum akhirnya diproyeksikan mendingin ke level US$ 4.925 per ons pada akhir 2027.

Michael Field selaku Chief Equity Strategist di Morningstar mengungkapkan pemicu anjloknya harga emas sebenarnya sudah terakumulasi sejak lama, lapor CNBC internasional.

“Investor khawatir perang AS-Iran yang berlarut-larut akan membuat inflasi bergerak ke satu arah: terus naik. Walaupun secara tradisional emas dianggap sebagai pelindung nilai (hedge) terhadap inflasi, emas tidak memberikan imbal hasil (income) berkala. Saat suku bunga rendah, investor tidak mempermasalahkan hal ini. Namun saat suku bunga cenderung naik dan inflasi tinggi, investor lebih memilih aset yang menghasilkan pendapatan pasti,” jelas Field.

Kekhawatiran ini diperkuat oleh kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah di Eropa, AS, dan Jepang. Penutupan jalur pelayaran kritis di Selat Hormuz akibat perang telah menjaga harga minyak tetap tinggi, yang pada gilirannya memicu kekhawatiran tekanan harga global yang lebih luas.

Nasib Logam Mulia Lainnya

Aksi jual ini ternyata tidak hanya menimpa emas, tetapi juga menyeret logam mulia lainnya:

– Perak: Harga spot perak anjlok 2,4% ke level US$ 72,85 per ons.

– Platinum: Merosot 1,7% ke level US$ 1.884,95 per ons.

– Paladium: Melemah 1,7% ke level US$ 1.366,70 per ons.

Sebagai catatan, emas dan perak sempat menikmati reli pemecahan rekor pada 2025 dengan lonjakan masing-masing sebesar 66% dan 135%. Namun, memasuki 2026 perdagangan menjadi jauh lebih fluktuatif.

Anjloknya harga logam mulia pada pertengahan 2026 ini tidak lepas dari rentetan peristiwa geopolitik dan makroekonomi yang terjadi sepanjang satu tahun terakhir. Pada 2025, emas dan perak menjadi primadona investasi global karena dianggap sebagai aset aman (safe haven) utama saat ketegangan di Timur Tengah mulai memanas dan memicu inflasi global.

Namun, memasuki 2026 dinamika pasar berubah drastis. Konflik AS-Iran yang berkepanjangan justru berdampak ganda: melambungkan harga minyak dunia akibat terganggunya jalur pasokan di Selat Hormuz, sekaligus memicu lonjakan harga kebutuhan pokok di dalam negeri AS akibat cuaca buruk dan kebijakan tarif dagang.

Kombinasi ini memaksa bank-bank sentral utama, khususnya The Fed, untuk mempertahankan sikap agresif dengan menjaga suku bunga tetap tinggi demi meredam inflasi. Akibatnya, daya tarik emas yang tidak memberikan bunga atau dividen mulai kalah saing oleh obligasi pemerintah dan penguatan dolar AS, memaksa investor melakukan aksi ambil untung (profit-taking) massal.

Share