NEW YORK, Detiktoday.com – Harga emas dunia anjlok hamir 2% pada perdagangan Selasa (19/5/2026) akibat penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS di tengah kekhawatiran inflasi global yang masih tinggi.
Harga emas ditutup anjlok 1,84% menjadi US$ 4.482,05 per ons troi, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 30 Maret. Sementara itu, emas berjangka AS kontrak Juni ditutup jatuh 1,59% ke level US$ 4.485,4 per ons troi.
Analis Marex Edward Meir mengatakan, kenaikan suku bunga riil di berbagai negara menjadi tekanan utama bagi logam mulia. “Penguatan dolar AS juga menjadi sentimen negatif bagi emas,” ujarnya dikutip dari Reuters.
Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat bertahan di dekat level tertinggi lebih dari satu tahun. Pada saat yang sama, indeks dolar AS menguat karena pasar memperkirakan The Fed berpotensi mempertahankan kebijakan hawkish guna meredam inflasi yang dipicu lonjakan harga energi.
Kenaikan yield obligasi membuat biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi semakin tinggi. Selain itu, penguatan dolar AS menjadikan harga komoditas berbasis dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Lonjakan harga minyak mentah Brent akibat kekhawatiran pasokan global juga memperbesar risiko inflasi dunia. Kondisi tersebut mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama demi menekan tekanan harga.
Meski dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, emas cenderung tertekan saat suku bunga tinggi bertahan dalam waktu lama. Pelaku pasar kini melihat peluang pemangkasan suku bunga sepanjang 2026 semakin terbatas, bahkan muncul ekspektasi pengetatan lanjutan pada akhir tahun.
Prospek Emas