Harga Emas Menguat Usai Selat Hormuz DibukaHarga Emas Menguat Usai Selat Hormuz Dibuka

Harga Emas Bangkit, tapi Ancaman Belum HilangHarga Emas Bangkit, tapi Ancaman Belum Hilang

Share
Share

Meski demikian, prospek emas belum sepenuhnya membaik. Kenaikan suku bunga dan kebijakan moneter yang ketat masih menjadi ancaman utama karena meningkatkan imbal hasil obligasi dan aset berbunga, sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Tekanan tersebut terlihat dari kinerja mingguan emas. Sepanjang pekan ini, harga emas sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh bulan dan masih mencatat pelemahan sekitar 2,1% secara mingguan.

Analis TD Securities juga memperingatkan, reli harga minyak dunia berpotensi menjadi hambatan baru bagi emas. Secara historis, penguatan harga energi dan dolar AS cenderung menekan harga logam mulia. Jika tren kenaikan minyak berlanjut, ruang penguatan emas diperkirakan akan semakin terbatas dalam beberapa bulan ke depan.

Dari sisi permintaan fisik, pasar India mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Emas diperdagangkan dengan premi untuk pertama kalinya dalam sekitar satu setengah bulan setelah koreksi harga mendorong kembali minat beli. Sebaliknya, permintaan di China, konsumen emas terbesar dunia, masih relatif lesu.

Sementara itu, logam mulia lainnya juga menguat. Harga perak melonjak 2,24% menjadi US$ 59,19 per ons, platinum menguat 1,25% ke US$ 1.622,97 per ons, dan paladium meningkat 1,76% menjadi US$ 1.210,4 per ons.

Kendati demikian, ketiga logam tersebut juga diperkirakan tetap menutup pekan di zona merah, sejalan dengan masih kuatnya tekanan di pasar logam mulia.

Share