JAKARTA, Detiktoday.com – Pergerakan harga emas dunia diperkirakan akan menghadapi tekanan pada pekan depan, seiring munculnya sinyal koreksi dari sisi teknikal serta pengaruh sejumlah sentimen global.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai, pergerakan harga emas pada timeframe H4 menunjukkan potensi pelemahan setelah harga gagal menembus area resistance dalam beberapa sesi terakhir.
Secara teknikal, Geraldo menyebut, kondisi ini mengindikasikan momentum bullish mulai kehilangan tenaga. Setelah mencatat kenaikan signifikan pada pekan sebelumnya, harga emas berpotensi memasuki fase koreksi sebagai bagian dari dinamika pasar yang wajar.
“Pelemahan yang terjadi masih tergolong koreksi sehat dan belum mencerminkan perubahan tren utama,” ujar Geraldo dalam risetnya, Sabtu (18/4/2026).
Dalam proyeksi jangka pendek, lanjut Geraldo, harga emas diperkirakan bergerak turun menuju area support terdekat di kisaran US$ 4.739 per ons troi. Level ini menjadi titik krusial yang akan diuji pasar dalam waktu dekat.
Jika tekanan jual berlanjut, Geraldo memprediksi harga emas bisa melemah lebih dalam hingga ke area US$ 4.702 per ons troi. Meski demikian, kedua level tersebut juga berfungsi sebagai area penopang yang berpotensi memicu rebound.
“Karena itu, pelaku pasar disarankan mencermati respons harga di level-level tersebut sebagai acuan dalam menentukan strategi transaksi,” papar Geraldo.
Dari sisi fundamental, Geraldo menjelaskan, tekanan terhadap harga emas turut dipengaruhi penguatan dolar Amerika Serikat. Mata uang yang lebih kuat membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor global, sehingga berpotensi menekan permintaan.
Tekanan Jangka Pendek