LONDON, Detiktoday.com – Harga emas bergerak fluktuatif di kisaran US$ 4.000 per ons seiring para pelaku pasar yang tengah menimbang sinyal-sinyal kontradiktif dari Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi ini terjadi menjelang dimulainya babak baru perundingan untuk mengakhiri perang yang telah memicu tekanan inflasi global.
Harga emas batangan sempat merangkak naik 0,4% ke sekitar US$ 4.030 per ons setelah sebelumnya sempat anjlok hingga 1,8% pada awal perdagangan di pasar Asia sebagaimana dipantau Blooomberg internasional, Selasa (30/6/2026).
Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan negosiasi dengan Iran dijadwalkan mulai berlangsung pada Selasa waktu setempat di Doha. Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran melalui saluran Telegram resminya menyatakan akan mengirim delegasi ahli, namun secara tegas menolak adanya dialog langsung.
Secara terpisah, Wakil Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Kazem Gharibabadi menegaskan pemerintah Iran tetap berkomitmen pada rencananya untuk mengawasi dan mengendalikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Langkah sepihak ini mendapat penolakan keras dari AS, Eropa, serta negara-negara Arab di kawasan Teluk, yang sekaligus mempertegas perbedaan pandangan yang tajam atas pengelolaan masa depan jalur perairan vital tersebut.
Sejak perang pecah pada akhir Februari lalu, harga emas tercatat telah merosot sekitar 25%. Penurunan ini turut menembus beberapa level teknis penting, termasuk indikator 200-day moving average yang biasa menjadi acuan tren jangka panjang.
Meskipun harga minyak dunia mulai merosot setelah sempat melonjak di awal perang, ekspektasi pasar tetap menunjukkan bank-bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Hal ini menjadi beban berat bagi komoditas logam mulia yang tidak menghasilkan imbal hasil (non-yielding).
Ole Sloth Hansen selaku Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank A/S menilai masih ada kekhawatiran yang membayangi pasar.
“Terdapat kekhawatiran yang tersisa bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin akan tetap mempertahankan sikap kontraktif (hawkish) mereka, meskipun harga energi sudah turun tajam,” ujarnya. Ia menambahkan, sebagian trader mungkin mulai percaya diri setelah melihat emas bangkit dari level terendahnya pekan lalu.
“Namun, harga emas harus menembus ke atas level US$ 4.100 terlebih dahulu sebelum kita bisa menyimpulkan dengan logis bahwa titik terendah jangka pendek telah terbentuk,” tambahnya.
Perkembangan terbaru di Timur Tengah ini terjadi bersamaan dengan keputusan Mahkamah Agung AS yang mengizinkan Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Lisa Cook untuk tetap mempertahankan jabatannya. Keputusan ini keluar di tengah upaya hukum Cook melawan keputusan Presiden AS Donald Trump yang ingin mencopotnya atas tuduhan penipuan hipotek yang belum terbukti.
Putusan hukum tersebut dinilai memperkuat independensi bank sentral AS. Saat ini, The Fed berada di bawah tekanan besar untuk menurunkan suku bunga, sementara beberapa pejabat internalnya justru memberikan sinyal mereka mungkin perlu menaikkan biaya pinjaman demi meredam inflasi.
Adapun data inflasi AS terbaru yang dirilis pekan lalu menunjukkan angka yang masih tinggi, meskipun tetap berada dalam koridor estimasi para analis.
Di pasar spot London, harga emas tercatat naik 0,4% menjadi US$ 4.030,30 per ons pada pukul 08.54 waktu setempat. Sementara itu, perak menguat 1% ke level US$ 58,86 per ons. Di sektor logam lainnya, platinum mengalami penurunan, sedangkan paladium berhasil menguat 1%. Indeks Dolar Spot Bloomberg juga merangkak naik 0,2% setelah sempat melemah selama tiga sesi perdagangan berturut-turut.
Fluktuasi harga emas yang tertahan di kisaran US$ 4.000 tidak lepas dari posisi strategis Selat Hormuz dalam arsitektur ekonomi dunia.
Selat yang memisahkan Teluk Oman dan Teluk Persia ini merupakan jalur logistik paling krusial di dunia, di mana hampir seperlima dari total konsumsi minyak bumi dan sekitar sepertiga dari pasokan gas alam cair (LNG) global melintas di kawasan ini setiap harinya. Ketika perang melibatkan AS dan Iran meletus, Selat Hormuz langsung bertransformasi menjadi titik panas geopolitik yang sangat sensitif.
Rencana Iran untuk mengendalikan secara penuh lalu lintas kapal di selat tersebut memicu kekhawatiran akut akan terjadinya gangguan pasokan energi atau supply shock. Jika jalur ini terhambat, harga komoditas energi dunia dipastikan akan kembali melonjak tidak terkendali. Risiko inilah yang kemudian memicu kecemasan akan datangnya gelombang inflasi baru di tingkat global.
Bagi perbankan mutakhir seperti The Fed, ancaman inflasi energi ini memaksa mereka untuk bersikap dilematis yakni harus mempertahankan suku bunga tinggi demi meredam harga-harga yang melambung, meskipun kebijakan tersebut berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menekan daya tarik emas sebagai aset investasi aman.