NEW YORK, Detiktoday.com – Harga emas dunia ditutup melemah pada perdagangan Jumat (10/7/2026) dan mencatatkan penurunan mingguan setelah kenaikan harga minyak akibat memanasnya konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Harga emas spot ditutup turun 0,11% menjadi US$ 4.119,48 per ons troi. Secara mingguan, logam mulia ini telah terkoreksi sekitar 1,35%. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus ditutup melemah 0,65% ke level US$ 4.113,7 per ons troi.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek mengatakan, pasar saat ini kembali mencermati meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.
“Faktor utama saat ini adalah kembali memanasnya ketegangan antara AS dan Iran. Investor tampaknya enggan mempertahankan posisi di emas dan perak, sehingga harga emas bergerak turun ke kisaran US$4.100 per ons,” kata Melek dikutip dari Reuters.
Ketegangan geopolitik tersebut juga memicu reli harga minyak. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan memperingatkan bahwa eskalasi konflik AS-Iran dapat menggagalkan proyeksi surplus pasokan minyak global pada tahun depan.
Kenaikan harga energi meningkatkan risiko inflasi dan memperkuat spekulasi bahwa bank sentral, terutama The Fed, akan mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan kembali menaikkan suku bunga.
Meski emas kerap dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga cenderung menjadi sentimen negatif bagi logam mulia karena meningkatkan daya tarik aset yang memberikan imbal hasil.
“Semua indikasi menunjukkan pasar khawatir terhadap inflasi, terutama karena harga minyak kembali menguat dalam beberapa hari terakhir. Hal ini akan membuat bank sentral, khususnya The Fed, tetap waspada,” ujar Melek.
Kenaikan Suku Bunga The Fed