JAKARTA, Detiktoday.com – Kalangan ahli memprediksi harga emas dunia kembali memasuki tren yang fluktuatif sepekan ke depan.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa pergerakan harga emas sepekan ke depan akan dipengaruhi oleh sentimen tentang geopolitik, situasi politik dan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS).
“(Harga emas) bisa terkoreksi, kemungkinan support pertama di US$ 4.023 per troy ounce dan logam mulia di 2.635.000 rupiah per gram. Apabila melemah kembali, support kedua harga emas di US$ 3.906 per troy ounce kemudian logam mulia di Rp 2.570.000 per gram,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya pada Minggu (12/7/2026).
Namun, Ibrahim juga melihat adanya peluang harga emas kembali menguat di resistance pertama US$ 4.214 per troy ounce dan logam mulia di Rp 2.675.000 per gram.
“Kemudian seandainya harga emas dunia kembali menguat maka resistance kedua di US$ 4.398 per troy ounce dan logam mulia di Rp 2.800.000 per gram,” katanya.
Ibrahim memaparkan, penguatan harga emas dan logam mulia disebabkan oleh melemahnya mata uang rupiah.
Menurutnya, yang mempengaruhi fluktuasi emas dunia, dan logam mulia ada beberapa faktor, pertama adalah faktor geopolitik, kedua faktor perpolitikan di Amerika, yang ketiga adalah kebijakan Bank Sentral Amerika, dan terakhir supply and demand.
Pertama, dari faktor geopolitik, Amerika melakukan penyerangan terhadap target-target Iran pada saat pemakaman Ayatullah Khomeini dan keluarganya. Kemudian Iran pun juga melakukan penyerangan.
Pada hari Minggu pagi, Angkatan Laut Garda Revolusi memberikan pernyataan resmi bahwa Selat Hormuz ditutup. Selat Hormuz ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut setelah melepaskan tembakan peringatan ke sebuah kapal yang tidak melalui rute yang sudah ditentukan oleh Angkatan Laut Garda Revolusi.
Sehingga secara resmi pada hari Minggu ini,
Selat Hormuz di Timur Tengah ditutup total. Hal ini akan berpengaruh terhadap transportasi minyak pada hari Senin.
Lalu, di Eropa Timur, Rusia dan Ukraina terus saling serang-menyerang yang cukup sporadis, Ukraina terus melakukan penyerangan terhadap instalasi minyak, sehingga instalasi minyak ini yang membuat produksi minyak di Rusia mengalami penurunan dan dampaknya adalah terhadap penguatan harga minyak mentah.
Rusia sendiri melakukan penyerangan terhadap infrastruktur-infrastruktur di Ibu Kota. Ini yang kemungkinan besar akan membuat satu permasalahan terhadap harga minyak mentah yang akan terus mengalami kenaikan, kemudian dolar pun juga akan terus mengalami penguatan.
Kedua, yakni perpolitikan di Amerika dengan persiapan untuk pemilu sela, dimana partai republik kemungkinan besar akan dikalahkan oleh Partai Demokrat dimana isu utama adalah isu tentang harga-harga pangan di Amerika yang relatif lebih tinggi, terutama adalah harga gasolin juga, sehingga ini akan berpengaruh terhadap inflasi.
Kemudian, ketiga, kebijakan Bank Sentral Amerika. Bank Sentral Amerika berjanji untuk memberikan stabilitas harga dan siap untuk bertindak tegas untuk menekan ekspektasi inflasi jangka panjang.
Dengan adanya penutupan Selat Hormuz yang tadinya harga minyak melandai, kemungkinan besar harga minyak naik, berarti ada kemungkinan besar Bank Sentral Amerika akan tetap menaikan suku bunga.
Kemudian yang terakhir, supply and demand. permintaan emas oleh Bank Central Global di bulan Juni tahun 2026 cukup tinggi.
Pada saat harga emas mengalami penurunan, terjadi koreksi, banyak Bank Central Global memanfaatkan untuk menambah cadangan devisanya.
Hal ini juga sesuai dengan survei yang dilakukan oleh World Bank Council. WGC mengatakan bahwa 45% Bank Central Dunia berencana terus menambah cadangan emas mereka.