JAKARTA, Detiktoday.com – Pakar mengaku optimis harga emas akan mendapat momentum dari tren penurunan harga minyak dunia.
Dikutip dari Kitco News, Selasa (30/6/2026) para analis komoditas di Heraeus mencatat bahwa momentum harga emas bisa kembali muncul meski sedang berada di bawah tekanan seiring penguatan dolar AS (USD).
“Jika tidak ada penutupan lebih lanjut di Selat Hormuz, penurunan harga minyak mulai diteruskan kepada produsen dan konsumen. Kemudian jika indeks harga PCE turun, bersamaan dengan indeks lainnya, kemungkinan kenaikan suku bunga juga akan berkurang, memperkuat prospek investasi untuk logam mulia.” ungkap para analis di Heraeus.
Harga emas sendiri telah menurun di bawah US $ 4.000/troy ounce untuk pertama kalinya sejak November 2025 pekan lalu, karena pasar terus memperhitungkan kebijakan moneter Federal Reserve yang lebih agresif.
Analis Heraeus menilai, meskipun penguatan dolar AS tidak mempengaruhi pelemahan harga emas, faktor makro yang sama sering memengaruhi keduanya, dengan dolar AS yang lebih kuat juga membuat emas lebih mahal bagi pembeli non-dolar.
Para analis juga memperkirakan, harga emas akan kembali mendapat momentum dari akumulasi logam mulia yang semakin meningkat. Salah satunya, impor emas China naik ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir pada Mei 2026.
“Sejauh tahun ini, impor emas non-moneter ke China mencapai total 691,6 ton. Angka ini naik 76% dari 393,6 ton pada periode Januari hingga Mei tahun ini, meskipun belum mencapai 840,6 ton yang diimpor pada periode yang sama tahun 2024. Hal ini didorong oleh permintaan yang kuat untuk emas batangan fisik dan rencana akumulasi emas di mana investor ritel dapat membeli emas dengan jumlah uang yang lebih kecil yang disetorkan setiap bulan,” papar para analis.