NEW YORK, Detiktoday.com – Harga emas dunia kembali anjlok dan sempat terjun ke level terendah dalam dua bulan pada perdagangan Rabu (27/5/2026). Tekanan datang dari meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) di tengah lonjakan inflasi akibat perang yang didukung AS terhadap Iran.
Harga emas ditutup anjlok 1,13% menjadi US$ 4.456,46 per ons troi, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 27 Maret. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni ditutup jatuh 1,03% ke level US$ 4.488,5 per ons troi.
Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals Peter Grant mengatakan, konflik Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang membebani pasar emas. “Awalnya sempat ada optimisme, tetapi karena konflik terus berlarut-larut, optimisme itu mulai memudar,” ujar Grant dikutip dari Reuters.
Menurut dia, perang yang berlangsung telah meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Harga emas juga terus berada di bawah tekanan sejak pecahnya perang AS-Israel melawan Iran.
Penutupan efektif Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak mentah Brent dan memperburuk kekhawatiran inflasi. Kondisi tersebut mendorong pasar memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga.
Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga membuat daya tarik emas berkurang karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Di sisi lain, televisi pemerintah Iran melaporkan Teheran akan memulihkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz ke level normal dalam waktu satu bulan sebagai bagian dari kerangka kesepakatan dengan AS.
Kesepakatan itu juga disebut mencakup penarikan pasukan AS dari wilayah sekitar Iran. Kabar tersebut sempat memangkas penurunan harga emas.
Fokus Inflasi